Pemprov Jatim (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Timur memulai pemulihan dengan pemugaran berbasis kaidah cagar budaya dan pengawasan tim ahli bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi di Surabaya, yang rusak akibat kebakaran saat terjadi kerusuhan pada Agustus 2025.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Rabu mengatakan bahwa sejak awal, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan tim cagar budaya untuk pelaksanaan proses pemulihan yang diharapkan bisa kembali mirip dengan bangunan asli.
"Kita memaksimalkan keserupaan dan kemiripan dengan bangunan aslinya. Meskipun tentu tidak bisa persis seperti aslinya," ujar Khofifah.
Pemulihan ditandai prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dipimpin Khofifah bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, dan secara simbolis melakukan pengelupasan lapisan dinding yang terbakar.
Lingkup pekerjaan pemulihan gedung tersebut, meliputi rekonstruksi atap, replikasi engsel, kusen, dan pintu, ekspos hasil ekskavasi arkeologi dan balok kayu, serta penataan ulang ruang yang terdampak kebakaran.
Pemugaran dilakukan dengan spesifikasi khusus karena status bangunan sebagai cagar budaya, termasuk penggunaan material mortar berbahan dasar kapur dan mineral khusus agar tidak merusak struktur lama.
"Jadi bangunan ini dibangun tanpa semen. Kapur yang digunakan itu sekaligus sebagai perekat. Dan ada beberapa konstruksi dan bagian-bagian lama yang existing, seperti kusen yang ada di sini, tidak akan dirombak," kata Khofifah.
Ia menambahkan, pelestarian cagar budaya menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang.
"Ke depan tentu kita harus memiliki rasa untuk bisa bersama-sama bertanggung jawab menjaga semua cagar budaya yang kita miliki. Bukan hanya di Grahadi, tapi semua cagar budaya yang ada di negeri ini," pesannya.
Pemulihan diawali identifikasi material bangunan seperti batu bata dan genteng dari sisa kebakaran guna menjaga kesesuaian bentuk dengan kondisi awal.
"Proses ini sudah diidentifikasi dan dikawal oleh tim dari cagar budaya dan banyak elemen lainnya. Betapa identifikasi dan detail proses tadi tidak sederhana. Sehingga kita berharap bahwa ke depan tidak ada lagi cagar budaya yang kemudian dijadikan sasaran siapa pun," tuturnya.
Pemugaran hanya difokuskan pada bangunan sayap barat, bukan keseluruhan kompleks Grahadi, dengan target penyelesaian sesuai jadwal yang telah ditetapkan tim.
"Gedung-gedung yang terdampak ini adalah gedung-gedung yang harus kita lestarikan. Ini yang kita pulihkan adalah bangunan sayap barat Grahadi, bukan keseluruhan Grahadi," ujarnya.
Proyek tersebut telah melalui kajian tenaga ahli, termasuk Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, dengan durasi pekerjaan 210 hari kalender sejak 30 Maret hingga 25 Oktober 2026.
Nilai kontrak pekerjaan mencapai Rp12,77 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur.
Selain itu, pemugaran juga menampilkan elevasi lantai asli melalui metode ekskavasi dengan lantai kaca sebagai sarana edukasi, serta penambahan sistem proteksi kebakaran untuk mitigasi risiko di masa mendatang.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026