Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jember (Unej) Hermanto Rohman meminta masyarakat untuk setop panic buying atau melakukan aksi borong BBM dan mempercayai pemerintah untuk mencari solusi apabila konflik di Timur Tengah berdampak pada jalur distribusi bahan bakar.
Antrean panjang warga membeli BBM di sejumlah SPBU terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, karena aksi borong sejumlah pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan isu kelangkaan BBM.
"Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kerap memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan BBM, namun kami mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong," katanya di Jember, Minggu.
Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyatakan bahwa stok BBM aman untuk 21 hari ke depan bukan berarti habis total setelah tanggal tersebut.
"Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak menyebutkan bahwa Pemegang Izin Usaha wajib menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari," tuturnya.
Menurut dia, istilah ketahanan stok BBM selama 21 hari seringkali disalah-artikan oleh masyarakat awam sebagai hitung mundur menuju habisnya stok bahan bakar tersebut.
"Stok 21 hari itu adalah indikator teknis jika tangki penyimpanan dalam kondisi penuh tanpa ada pengisian ulang sama sekali. Faktanya, distribusi dan produksi di kilang domestik berjalan secara kontinu setiap hari, sehingga tangki tersebut terus terisi kembali secara otomatis," katanya.
Ia mengatakan masalah penutupan Selat Hormuz itu memang akan sedikit menghambat produksi BBM Pertamina, tetapi Pertamina membeli bahan baku BBM itu bukan hanya berasal dari negara-negara di Timur Tengah saja.
"Saat ini impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi sekitar 20 persen dari keseluruhan, namun Indonesia juga mengimpor dari Amerika, Rusia, negara negara Amerika latin, China , Nigeria maupun Angola," ujarnya.
Terkait ancaman penutupan Selat Hormuz, Hermanto menilai dampaknya terhadap pasokan fisik BBM di Indonesia tidak akan seekstrem yang dikhawatirkan.
Meskipun Selat Hormuz merupakan jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global, struktur pengadaan bahan baku minyak (crude oil) Indonesia sudah cukup terdiversifikasi.
"Pertamina tidak hanya bergantung pada negara-negara Arab. Sumber bahan baku tersebar mulai dari Amerika Serikat, Rusia, Amerika Latin, hingga China dan Singapura. Keragaman sumber itu menjadi bantalan agar pasokan dalam negeri tetap aman meskipun ada gangguan di satu jalur distribusi internasional," katanya.
Hermanto tidak menampik bahwa ketegangan di Timur Tengah biasanya berimbas pada fluktuasi ekonomi. Belajar dari preseden sejarah seperti konflik Irak dan Yaman, gangguan di Selat Hormuz memang berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia pada kisaran 10 persen hingga 20 persen.
Namun, ia menekankan bahwa kenaikan harga adalah variabel yang berbeda dengan ketersediaan barang karena masalahnya mungkin ada pada penyesuaian harga, tetapi bukan pada hilangnya stok di SPBU.
"Oleh karena itu, 'panic buying' justru akan menciptakan kekacauan distribusi yang sebenarnya tidak perlu terjadi," katanya.
Pemerintah melalui Pertamina dianggap sudah memiliki protokol manajemen krisis yang teruji untuk menjaga kedaulatan energi nasional di tengah dinamika global.
"Saya imbau masyarakat tetap tenang dan jangan panic buying, serta berdoa. Percayakan hal itu kepada pemerintah untuk mencari solusi yang terbaik," ucap dosen FISIP Unej itu.
Pewarta: Zumrotun SolichahEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026