Malang - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang mengkhawatirkan munculnya sejumlah hotel baru akan memicu "perang" tarif dan tidak sesuai dengan kelasnya. Ketua PHRI Kota Malang Herman Sumaryono, Rabu, mengatakan jika pesatnya pertumbuhan hotel baru dalam kurun dua tahun terakhir ini berdampak terhadap keberadaan hotel-hotel kelas melati, terutama tingkat huniannya (okupansi). "Tahun ini ada kemungkinan jumlah hotel berbintang akan terus bertambah, sehingga persaingannya akan semakin ketat," tegasnya. Sebenarnya, tegas Herman, tidak masalah hotel di daerah ini tumbuh pesat, namun manajemen harus "bermain" sesuai dengan kelasnya, kalau hotel bintang, maka tarifnya juga kelas hotel bintang, jangan banting tarif sama dengan hotel melati. Hadirnya sejumlah hotel baru tersebut, katanya, secara tidak langsung juga "menggerus" okupansi hotel kelas melati. Selama 2012, ada lima hotel baru beroperasi di Kota Malang, sehingga jumlah keseluruhan mencapai 60 hotel dan 39 diantaranya hotel berbintang II-V. Selama 2012 tingkat okupansi hotel di Malang rata-rata sekitar 60 persen dari total kamar yang ada. "Kami khawatir ada persaingan tidak sehat, sehingga mengancam eksistensi industri jasa perhotelan dan tidak menutup kemungkinan akan banyak hotel yang gulung tikar," ujarnya. Herman mengemukakan, pesatnya pertumbuhan hotel di daerah itu tidak ditunjang dengan pesatnya pembangunan lokasi wisata yang menjadi tujuan bagi wisatawan. Wisatawan domestik yang menginap di Kota Malang rata-rata adalah limpahan dari Kota Batu atau hanya transit setelah atau sebelum melanjutkan perjalanannya ke sejumlah lokasi wisata di luar Kota Malang, seperti Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Pulau Bali. Sementara itu PHRI juga minta agar pemerintah setempat memberikan perhatian serius, seperti mendorong even wisata di daerah itu agar wisatawan banyak yang datang dan menginap di hotel di Malang raya.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026