Surabaya (ANTARA) - Pengabdian selama lebih dari sebulan di Desa Wisata Patakbanteng, Wonosobo, mengantarkan Tim Amerta Pertiwi dari Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tim terbaik dalam program Genera-Z Berbakti 2026 yang digelar PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA.

“Kalian adalah juara, dan berhasil membuktikan konsistensi serta komitmen menjalankan seluruh rencana hingga terwujud di lokasi pengabdian,” kata Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Jawa Timur, Senin.

Amerta Pertiwi berhasil meraih predikat Best Team setelah melalui tahap penilaian akhir bersama tiga tim lainnya.

Penilaian dilakukan berdasarkan empat parameter, yakni kualitas presentasi, implementasi program, dampak program, dan keberlanjutan program.

Posisi Runner-Up I diraih Tim Pelita dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), disusul Tim KATALIS dari Universitas Indonesia (UI) sebagai Runner-Up II dan Tim Laskar Selasik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai Runner-Up III.

Genera-Z Berbakti merupakan program BCA yang mengajak generasi muda berkontribusi secara langsung dalam pengembangan desa wisata di Indonesia melalui mekanisme call for proposal.

Pada 2026, lebih dari 260 proposal dari 98 perguruan tinggi negeri masuk selama masa pendaftaran dan sebanyak delapan tim lolos ke tahap penjurian dengan empat tim terpilih sebagai pemenang untuk menjalankan program pengabdian di empat desa wisata binaan Bakti BCA selama lebih dari satu bulan.

Antonius mengatakan BCA mengapresiasi keterlibatan para mahasiswa yang menjalankan program secara langsung di tengah masyarakat.

Menurut dia, keempat tim telah membuktikan kemampuannya turun langsung dan menghadirkan dampak bagi masyarakat di lokasi masing-masing.

"Ke depannya, kami berkomitmen terus mendukung generasi muda Indonesia untuk selalu berkarya, berdampak, dan tumbuh menjadi generasi penerus yang kuat serta memiliki pendirian dalam beraktivitas,” ujarnya.

Bagi Amerta Pertiwi, capaian menjadi best team merupakan kejutan karena sejak awal mereka tidak memasang target untuk menjadi tim terbaik selama menjalankan pengabdian di Patakbanteng.

Anggota Amerta Pertiwi, Regina, mengatakan penilaian akhir justru menjadi kesempatan bagi timnya untuk menyampaikan pengalaman sekaligus mempertanggungjawabkan program yang telah dijalankan di lapangan.

“Sesi penilaian akhir kami anggap seperti sesi sharing, dengan kami sebagai pembawa informasi dari lapangan. Seandainya mendapat kesempatan, kami juga sangat terbuka untuk membahas lebih lanjut mengenai potensi-potensi yang dimiliki Desa Patakbanteng karena potensi desa ini luar biasa banyak dan berdikari,” ujarnya.

Sementara itu, Tim Pelita UNPAD menyebut proses penilaian akhir layaknya menghadapi sidang skripsi. Bedanya, pertanyaan dari para juri membuat mereka harus kembali merenungkan program yang telah dilaksanakan di Desa Wisata Situs Gunung Padang, Cianjur.

“Kami harus berpikir keras menangkap konteks pertanyaan saat penilaian akhir, apalagi setiap jawaban kami terus ditanggapi. Mau tidak mau ada sedikit perenungan yang harus dilakukan sebelum menjawab pertanyaan dari para juri,” kata anggota Tim Pelita Ghifari.

Pengalaman berbeda dirasakan Tim KATALIS UI. Selama menjalankan program di Desa Wisata Kakaskasen Dua, kebersamaan yang terbangun antaranggotanya menjadi pengalaman yang mereka bawa hingga tahap akhir.

“Awalnya kami pikir hanya bisa menuangkan ide ke dalam proposal, ternyata pada akhirnya bisa menghabiskan momen susah dan sedih bersama dari awalnya tidak begitu dekat hingga bisa di titik sekarang,” ujar anggota Tim KATALIS Divani.



Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026