Bondowoso - Warga di Kabupaten Bondowoso, Jatim, kurang berminat mengonsumsi tempe yang terbuat dari kara sehingga produsen tidak lagi memproduksinya. "Saya dulu tahun 80-an pernah buat tempe benguk (salah satu jenis kara), tapi tidak ada masyarakat yang mau membeli, akhirnya tetap menggunakan kedelai," kata Supini alias Buk Sahro (66), produsen tempe tradisional di Bondowoso, Kamis. Perempuan asal Malang yang merantau dan menetap di Bondowoso sejak 1977 itu mengemukakan bahwa seandainya tempe benguk laku di masyarakat, maka di saat harga kedelai melambung, dirinya bisa menggunakan bahan alternatif. "Saya juga pernah membuat tempe bongkel yang terbut dari ampas kacang tanah, tapi tidak laku juga. Orang di sini, katanya, takut memabukkan," katanya ditemani suaminya Poniran (73). Warga Dusun Tenggarang Jawa, Kelurahan/Kecamatan Tenggarang, ini mengamukakan bahwa di saat harga kedelai melambung, dirinya harus menyiasati dengan mengurangi ukuran. Hal itu dilakukan agar pelanggan tidak mengeluh dibandingkan dengan jika harganya dinaikkan. "Tapi untuk penghasilan menurun. Kalau dulu dengan harga kedelai Rp5.800 per kilogram, untungnya Rp1.000 per kilogram kedelai, sekarang berkurang, mungkin hanya Rp750. Mau bagaimana lagi, wong ini sudah pekerjaan saya sejak dulu," katanya. Supini mengemukakan bahwa saat bulan puasa, dirinya mengurangi jumlah produksi, yakni hanya Rp40 kg per hari, sementara di luar puasa, setiap hari menghabiskan 50 kg. Dengan setiap hari memproduksi rata-rata 50 kg, maka penghasilan Supini sebelum kedelai naik rata-rata Rp50.000 per hari. Namun, seiring harga kedelai naik, penghasilan itu berkurang. "Tapi saya tidak akan berhenti membuat tempe, selagi saya kuat dan masih untung. Ini turun temurun dari orang tua saya di Malang," katanya. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012