Bondowoso - Hendri Herawati (27), tenaga kerja asal Kabupaten Bondowoso, Jatim, yang tewas dengan luka tertusuk di Johor, Malaysia, diduga kuat dibunuh oleh pasangan hidupnya. Informasi mengenai siapa pelaku pembunuhan itu disampaikan pejabat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bondowoso maupun keluarga korban saat ditemui secara terpisah di Bondowoso, Rabu. "Kami menerima informasi memang pelakunya adalah pasangan hidup korban di Malaysia. Tapi mengenai kepastiannya, kita serahkan ke polisi di Malaysia. Pelaku adalah warga negara Malaysia," kata Kabid Pelatihan, Penempatan dan Penyaluran Kesempatan Kerja (P3KK) Disnakertrans Bondowoso Asep T Herjadi. Namun demikian, pihaknya hingga kini belum memperoleh informasi apa motif dari pembunuhan tersebut. Pihaknya dan keluarga menyerahkan proses hukum terhadap pelaku kepada kepolisian di Malaysia. Sementara keluarga korban menjelaskan bahwa Hendri pernah mengaku memiliki suami orang Malaysia. Sejak kejadian hingga saat ini, Dariyatmoko, kakak ipar korban, tidak pernah bisa menghubungi suami dari Hendri tersebut. "Informasi yang kami terima memang adik saya itu dibunuh oleh suaminya," kata Dariyatmoko. Hendri yang beralamat di Kelurahan Sekarputih, Kecamatan Tegalampel, Bondowoso, ditemukan tewas dengan luka tusuk di leher dan perut, Minggu (6/5) tengah malam waktu Malaysia. Ia tewas di tempat kosnya dan tidak bisa tertolong meskipun teman-temannya sudah berupaya memanggil ambulans. Asep menjelaskan bahwa Hendri tidak tercatat dalam register tenaga kerja ke luar negeri di Disnakertrans Bondowoso. Dengan demikian dipastikan bahwa Hendri berangkat bekerja ke Malaysia tidak secara resmi. "Dia berangkat ke Malaysia menggunakan visa pelancong. Sehingga waktu tinggalnya di sana hanya sebentar. Setelah habis masa berkunjungnya, dia pergi ke perbatasan dengan Indonesia untuk minta stempel, kemudian masuk lagi ke Malaysia," katanya. Meskipun demikian, Asep menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya membantu keluarga yang menginginkan jasad Hendri bisa dibawa pulang ke Bondowoso. "Kami terus berkoordinasi dengan Kemenlu dan KJRI di Johor untuk mengetahui perkembangan kasus ini. Sebetulnya sudah beberapa hari lalu kami mendapatkan informasi mengenai kasus ini, tapi pemberitahuan resmi dari Kemenlu dan KJRI baru dua hari lalu," katanya. Ia mengemukakan bahwa untuk memulangkan jasad korban memang tidak mudah karena membutuhkan waktu yang lama. Hal itu berkaitan dengan proses penyelidikan kasus tersebut di Malaysia. "Karena itu waktu keluarga korban datang ke sini saya sampaikan agar bersabar. Mungkin harus menunggu tiga hingga empat bulan untuk bisa dibawa pulang," kata Asep. Menurut dia, keluarga sudah membuat surat pernyataan sebagai ahli waris yang menginginkan jenazah korban dibawa pulang ke Bondowoso. Surat itu sudah kami kirim ke Kemenlu dan saya emailkan juga ke KBRI di Malaysia," katanya. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012