Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menambah tiga guru besar bidang ilmu berbeda dari Fakultas Pertanian Peternakan (FPP), sehingga menjadi 30 orang profesor.

Menurut Rektor UMM, Prof Dr Fauzan, saat ini masih ada 24 orang profesor yang belum dikukuhkan dan empat orang masih dalam proses.

"Pada akhir Januari 2024, dijadwalkan seluruhnya sudah dikukuhkan, sehingga UMM memiliki 58 profesor dan diharapkan bisa mewujudkan cita-cita para pendiri kampus ini dan warga UMM pada umumnya," kata Prof Fauzan di sela pengukuhan tiga orang profesor tersebut di kampus setempat, Sabtu.

Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah 7, Prof Diah Sawitri dalam sambutannya mengemukakan dari 107 guru besar yang dikukuhkan selama kurun waktu 2023, sebabyak 57 guru besar di antaranya dari UMM.

"Dengan jumlah guru besar yang terus bertambah dan membidangi banyak keilmuan, saya yakin cita-cita sebagai world class university bisa segera terwujud," ucapnya.

Ketiga profesor yang dikukuhkan tersebut adalah Prof Dr Damat, Prof Dr Wehandaka Pancalaga dan Prof Dr Rahayu Relawati. Pengukuhan ini sekaligus menguatkan kualitas pendidikan yang diupayakan UMM.

Misalnya Prof Damat yang mengkaji pangan fungsional berbasis sumber daya lokal. Tujuannya untuk mengembangkan produk pangan kaya pati resisten.

Selain itu, ia juga mendampingi sertifikasi halal produk makanan dan minuman. Sejak 2006 hingga 2021, Damat selalu mendapatkan dukungan pendanaan dari Dikti melalui beragam penelitian dan pengabdian.

Ia menelurkan produk beras analog kaya antioksidan (Rasgadan), makaroni kaya pati resisten, cake dengan indeks glikemik rendah hingga pendirian UMM Bakery, serta produk penelitian lainnya.

Damat juga mengembangkan produk berbahan baku lokal dan tidak mengandung gluten. Gluten tidak baik dikonsumsi oleh orang yang intoleran terhadap gluten, karena dapat menyebabkan celiac. Berbagai penelitiannya berupaya mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional berbasis sumber daya lokal. Selain itu, juga untuk menyediakan pangan fungsional.

Sementara Prof Wehandaka meneliti teknik finishing kulit samak dengan pewarnaan alami. Produk tersebut dikenal dengan sebutan batik ecoprint.

Ia memulai penelitiannya pada 2014, dengan riset metode batik pada kulit samak. Pada 2016, ia mengembangkan teknik finishing kulit dengan metode pewarnaan ikat. Di 2018, ia mencoba metode ukir hingga mengembangkan metode ecoprint yang sudah dijalankan sejak 2021.

“Dengan batik ecoprint ini, saya juga mendampingi usaha-usaha masyarakat terkait barang-barang kulit di beberapa tempat. Misalnya, di Bululawang, Malang hingga Magetan. Salah satu keunggulannya adalah motif yang bervariasi dan lebih unik,” kata Wehandaka.

Dia mengatakan metode ecoprint juga ramah lingkungan, sehingga tidak menyebabkan kerusakan alam. Pengembangan itu juga sekaligus membantu produk UMK pengrajin barang-barang kulit dan lebih berdaya saing.

Sedangkan Prof Rahayu memiliki ketertarikan di bidang manajemen agribisnis, seperti struktur pasar komoditas pangan dan hortikultura, strategi pemasaran, dan perilaku konsumen. Kepedulian pada keberlanjutan agribisnis juga telah memotivasinya untuk mengkaji pemasaran produk pangan organik dan perilaku konsumen hijau.

Berbagai riset yang dilakukan mendapat dukungan pendanaan dari Dikti dan pendanaan internal UMM. Terhitung ada 21 penelitian yang sudah dilakukan sejak tahun 2007 hingga 2022. Riset green marketing bidang agribisnis memberikan dampak positif bagi lingkungan maupun bisnis.

Green marketing membuka jalan bagi perusahaan untuk memberikan layanan ramah lingkungan.

Ada banyak kebermanfaatan dari penelitian tersebut, termasuk terwujudnya sustainable development goals (SDGs). Misalnya, pada SDG yang kedua, yakni kontribusi terhadap tujuan pangan dan ketahanan pangan. Begitu juga dengan SDG 1 dan 8 yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan dan peningkatan pekerjaan layak.

“Penelitian saya juga memberikan kontribusi green marketing dan perilaku green consumer. Manajemen agribisnis yang baik akan meningkatkan produktivitas, mengurangi limbah, dan akses yang adil akan sumber daya dan peluang,” kata Rahayu.*

Pewarta: Endang Sukarelawati

Editor : Abdullah Rifai


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2023