Kendari (ANTARA) - Film dokumenter Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), berjudul "The Mirror Never Lies" atau "Cermin Tidak Pernah Bohong" masuk nominasi film terbaik pada empat Festival Film Internasional (FFI). Bupati Wakatobi, Hugua, di Kendari, Minggu, mengungkapkan empat FFI yang menominasikan film dokumenter Wakatobi sebagai film terbaik tersebut adalah Busan Internasional Film Festival (Korea Selatan), Tokyo Internasional Film Festival (Jepang), Mumbai Internasional Film Festival (India), dan Kanada Internasional Film Festival (Kanada). "Pekan lalu, saya diundang panitia Tokyo Internasional Film Festival ke Tokyo untuk memaparkan kondisi objektif Wakatobi terkait film ini, namun tidak sempat hadir karena jadwalnya bertepatan dengan penutupan 'Sail Wakatobi Belitong 2011' oleh Wakil Presiden di Belitung," katanya. Ia mengatakan film yang memadukan keindahan alam dan kearifan budaya lokal masyarakat suku Bajo Wakatobi itu pernah diputar di Studio Film 21 Jakarta. "Di Indonesia sendiri film dokumenter yang sudah masuk layar lebar ini tidak begitu mendapat perhatian, namun di dunia internasional justru mendapatkan tempat yang terhormat, bahkan dinominasikan sebagai film terbaik," katanya. Menurut Hugua, film dokumenter yang berkisah keluarga berlatar belakang kehidupan laut itu diproduksi oleh sutradara film nasional, Garin Nugroho, yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi dan WWF-Indonesia. "Bintang sinetron nasional, Atiqah Hasiholan dan Reza Hardian, menjadi pemeran utama dalam film yang sudah masuk layar lebar dan dikomersilkan itu," katanya. Tujuan pembuatan film tersebut, kata dia, untuk mempromosikan keindahan alam Wakatobi, terutama alam bawah lautnya dan kearifan lokal masyarakat Wakatobi dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. "Tujuan pembuatan film itu saat ini sudah berhasil menarik perhatian dunia Internasional. Terbukti, empat Festival Film Internasional sudah menominasikan film itu sebagai film terbaik," katanya. Menurut dia, film dokumenter yang sudah dikomersilkan itu mengintegrasikan aspek ekologi, edukasi, wisata dan budaya. Aspek ekologi, ujarnya, dipresentasikan melalui potret keanekaragaman hayati perairan laut Wakatobi, sedangkan edukasi dan budaya terlihat dari kehidupan masyarakat suku Bajo, terutama dalam memperlakukan alam sesuai tradisi kearifan lokal mereka. Sementara keindahan terumbu karang dan keanekaragaman biota laut Wakatobi, kata dia, memperkuat pesan aspek wisata. "Seluruh keuntungan yang diperoleh dari penjualan tiket film ini akan didedikasikan bagi aktivitas konservasi lingkungan perairan laut di Wakatobi. Itu kesempatan produsen, Pemerintah Wakatobi dan WWF Indonesia," katanya. (*)

Pewarta:

Editor : FAROCHA


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011