Pamekasan - Warga Desa Panaguan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Jumat, menggelar ritual "rokat sumber air" di sebuah sumber air desa itu. Masyarakat desa berduyun-duyun datang ke sebuah sumber mata air yang diberi nama "Sumber Hastina" ini dengan membawa berbagai jenis sesajen, berupa buah-buahan, dan makanan. Buah yang dijadikan sesajen dalam ritual rokat sumber ini merupakan jenis buah-buahan yang ditanam para petani di desa itu, seperti pisang, jambu, semangka, kelapa dan jambu air. "Ritual rokat sumber ini kami gelar untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar debit air di musim kemarau ini tetap besar," kata salah seorang warga di desa itu, Djumali. Rokat sumber air ini dihadiri semua warga yang menggunakan air di sumber itu untuk pertanian mereka. Ritual rokat sumber air ini dimulai dengan pembacaan tembang "macapat", yakni salah satu jenis tembang berbahasa Jawa yang merupakan ritual pokok dalam acara rokat itu. Usai membaca tembang macapat ini, ritual dilanjutkan dengan acara tabur kembang tujuh rupa di sumber mata air "Hastina" ini, dan selanjutnya warga makan bersama-sama berbagai jenis makanan yang mereka bawa. Menurut Djumali, warga di desa itu percaya, jika dilakukan ritual rokat sumber, debet mata air akan bertambah. "Dulu pernah tidak dirokat dan air di sumber ini kering. Makanya setiap musim kemarau, sumber air ini selalu dirokat," kata Djumali menjelaskan. Sumber air "Hastina" di Desa Panaguan, Kecamatan Larangan ini terletak di dalam gua dan mampu mengairi pertanian seluar 30 hektare lebih yang ada di desa itu. Menurut tokoh masyarakat setempat, selain memang sudah menjadi kegiatan rutin warga, ritual rokat sumber mata air itu juga sebagai bentuk syukur masyarakat atas anugerah yang diberikan Allah SWT kepada para petani melalui sumber itu. Menurut juru bicara camat Larangan Sunairi, Desa Panaguan memang tergolong desa yang selama ini tidak pernah mengalami kekeringan dibanding desa-desa lain yang ada di wilayah itu. Hal ini terjadi karena sumber mata air yang ada di desa itu selalu mampu mengairi lahan pertanian warga. "Paling jika terjadi musim kemarau panjang saja desa ini mengalami kekeringan," katanya saat menghadiri acara rokat sumber itu, Jumat. Ia menjelaskan, desa yang paling rawan mengalami kekeringan di wilayah Kecamatan Larangan itu adalah Desa Ladangan Luar dan Desa Larangan Dalam. "Dua desa ini selalu dilanda kekeringan pada musim kemarau seperti sekarang ini, karena debet sumber mata air warga mengecil di musim kemarau," kata Sunairi menjelaskan.

Pewarta:

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011