Universitas Brawijaya Malang kembali menambah dua guru besar atau profesor dari Fakultas Teknik dan Fakultas Teknologi Pertanian yang rencananya dikukuhkan pada Selasa (31/5) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya Kota Malang, Jawa Timur.

Dua orang profesor yang dikukuhkan tersebut adalah Dr. Eng, Moch. Agus Choiron, ST., MT., dari Fakultas Teknik dan Yusuf Hendrawan, STP., M. App. Life Sc., Ph.D., dari Fakultas Teknologi Pertanian.

Agus Choiron dikukuhkan sebagai profesor ke-16 dari Fakultas Teknik dan ke-165 di UB, serta menjadi profesor ke-293 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.

Sementara Yusuf Hendrawan dari Fakultas Teknologi Pertanian merupakan profesor aktif ke-12 dari FTP dan profesor aktif ke-166 di UB serta menjadi profesor ke-294 dari seluruh profesor yang dihasilkan oleh universitas tersebut.

Dalam pemaparan di hadapan seluruh anggota senat, Moch. Agus Choiron memaparkan orasi ilmiahnya berjudul "Rekayasa Desain Hexagonal Crash Box untuk Short Crushable Zone dengan Simulasi Komputer".

Agus menjelaskan perangkat keselamatan kendaraan dengan performa dan tingkat keselamatan yang baik saat terjadi tabrakan sangat dibutuhkan, khususnya arah frontal atau tegak lurus.

"Crash box merupakan salah satu perangkat keselamatan pasif yang terletak di antara bumper dan frame yang berfungsi sebagai penyerap energi impak ketika terjadi tabrakan," kata Agus.

Ia menjelaskan crash box berupa struktur berdinding tipis (thin-walled structure) yang diharapkan mengalami deformasi permanen untuk menyerap energi impak akibat tabrakan dari sebuah kendaraan.

Sementara Yusuf Hendrawan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul "Pemanfaatan Intelligent Bio-Instrumentation System dalam Pengembangan Pertanian Presisi di Era Revolusi Industri 4.0". Ia merumuskan metode pengukuran objek hayati, khususnya objek pertanian yang dinamakan Intelligent Bio-Instrumentation System (IBIS).

IBIS merupakan sebuah metode pengukuran objek hayati melalui analisis gambar digital yang didapatkan dari kamera digital. Analisis gambar digital ini menggunakan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Ia menjelaskan keunggulan dari IBIS adalah metode pengukuran yang tidak merusak obyek pertanian yang diamati, akurat, mudah digunakan serta dapat dimanfaatkan dalam sistem kontrol pertanian supaya lebih efektif.

"Selain itu, alat pengukuran yang lebih murah dan prosedur pengukuran yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan metode pengukuran konvensional," ujarnya.

Pewarta: Vicki Febrianto

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2022