Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memfasilitasi guru-guru Indonesia untuk memahami konsep pendidikan di Finlandia dengan menghadirkan pakar pendidikan negara tersebut, Allan Schneitz.

Kegiatan kerja sama dengan lembaga Next Edu di kampus setempat, Kamis, itu juga   menghadirkan pembicara Muslimin Ibrahim dan Munif Chatib asal Indonesia.

Pencetus ide Dream School asal Finlandia, Allan Schneitz mengungkapkan pendidikan harus mampu menyiapkan anak-anak untuk menghadapi masa depannya. Karena tantangan yang datang di masa depan akan berbeda dengan apa yang terjadi saat ini.

"Tujuan pendidikan yang utama adalah menyiapkan bekal bagi anak-anak untuk menghadapi masa depannya. Karena itu perlu bagi para pendidik untuk mendapatkan wawasan apa yang sebenarnya terbaik bagi anak-anak dalam pendidikan di sekolah," kata Allan.

Finlandia selama ini dinilai sebagai negara dengan pendidikan terbaik karena konsep pendidikan yang sebenarnya sederhana. Yakni konsep pendidikan yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk dapat mengembangkan minat dan bakatnya.

Selain itu pendidikan di Finlandia juga mengedepankan nilai-nilai baik yang membentuk perilaku dan sikap positif. Di Finlandia, kata Allan, percaya semua anak memiliki keunggulan masing-masing selama diberi kesempatan.

"Anak-anak tepat belajar matematika, bahasa sebagai pengetahuan dasar. Tapi kami lebih mengedapankan pendidikan yang menanamkan nilai-nilai pada anak-anak," ujar Allan.

Secara khusus, menurutnya, untuk menghadapi masa depan, ada keterampilan abad 21 yang harus dimiliki anak-anak, yaitu bagaimana menumbuhkan kreativitas, membangun kerja sama dan berkolaborasi, berpikir kritis dan membangun komunikasi.

Di kesempatan yang sama Munif Chatib memberikan materi dengan tema Merdeka Belajar Itu Guru Kreatif kepada ratusan guru-guru yang berasal dari penjuru Indonesia dan beberapa dari Malaysia ini. 

Munif mengungkapkan bahwa guru tegas akan dibutuhkan daripada guru keras. Salah satu contoh saja, pada usia dini, anak-anak cenderung bersikap sesuai dengan apa yang diinginkan guru. Ketika mendapati guru memberikan perintah dengan nada tinggi misalnya, sangat mungkin siswa akan melakukan pekerjaan yang diperintahkan. 

"Bisa jadi hal ini hanya merupakan tindakan untuk menyenangkan guru, bukan tindakan yang benar-benar ingin dilakukan oleh siswa. Bukan tidak mungkin hal ini dilakukan dengan disertai rasa terpaksa, takut, atau bahkan tertekan," kata Dosen Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Unusa ini.

Penulis Buku Sekolahnya Manusia ini menambahkan, sikap tegas cenderung membuat kelas menjadi lebih tertib dan teratur, sedangkan sikap garang cenderung menimbulkan suasana kelas yang menegangkan. Yang penting untuk diingat adalah bahwa dunia dan kehidupan terus berkembang, begitu pula manusia yang ada di dalamnya.

"Guru harus bersikap sebagai teman belajar sekaligus bermain bagi siswa, bukan seorang guru kelas semata," katanya.  (*)

Pewarta: Willy Irawan

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2020