Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur melakukan panen secara dini akibat banjir yang menggenangi beberapa persawahan di wilayah setempat, sehingga hasilnya kurang memuaskan karena kualitas gabah menurun.

"Kami terpaksa panen dini supaya gabah tidak membusuk karena terlalu lama terendam air. Namun, masalahnya panen dini membuat kuliatas gabah menurun sehingga berdampak pada harga jual petani," kata Nur Ali, salah seorang petani di Desa Sumengko, Kecamatan Duduksampean, Kabupaten Gresik, Selasa.

Dia memprediksi, harga gabah akan turun drastis menjadi sekitar Rp36 ribu dari harga normal Rp41 ribu/kg, dan membuat biaya perawatan panen membengkak.

"Beberapa tengkulak tidak mau membeli, sebab tidak bisa dijual kembali. Namun minimal kami mendapat uang dan bisa buat masak saja," tuturnya.

Ali mengatakan, proses panen dini sangat rumit, yakni harus menggunakan alat bantu terpal untuk mengangkut gabah, dan membutuhkan waktu dua hari, dari biasanya selesai sehari.

Menanggapi keluhan petani, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik, Eko Anandito mengaku belum mendapatkan laporan terkait hal itu.

"Kami akan melakukan pemantauan langsung, melihat seberapa parah gagal panen yang dialami petani. Jika memungkinkan nanti akan dibantu penggurasan dengan menggunakan pompa air bantuan dari dinas," katanya.

Eko menyarankan agar petani menggunakan alat penggering yang sebelumnya sudah didistribusikan ke sejumlah kelompok tani.

"Alat itu memang dirancang untuk pengeringan gabah dari air, supaya bisa menjaga kualitas," katanya.

Sebelumnya, beberapa wilayah Kabupaten Gresik dilaporkan dilanda banjir setelah hujan deras di wilayah itu, di antaranya Kecamatan Cerme dan Jalan Raya Boboh, Menganti, namun BPBD mengaku belum mendapatkan laporan dari anggota di lapangan. (*)
 

Pewarta: A Malik Ibrahim

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019