Situbondo (Antaranews Jatim) - Kepala Bagian Administrasi dan Perekonomian Pemerintah Kabupaten Situbondo, Sentot Sugiono mengemukakan bahwa serapan gabah/beras setiap tahun surplus.

"Kalau kami hitung antara konsumsi dan panen padi di Situbondo tidak menghawatirkan untuk ketahanan pangan, karena setiap tahun serapan gabah/beras surplus hingga sekitar 127.000 ton," katanya di Situbondo, Jawa Timur, Senin.

Ia menjelaskan, surplus sekitar 127.000 ton gabah/beras tersebut sudah termasuk atau dikurangi penggunaan bibit dan konsumsi penduduk dan keperluan lainnya.

Dari posisi surplus serapan gabah/beras tersebut, katanya, dilihat dari posisi panen selama satu tahun, mulai dari panen pertama, kedua dan panen ketiga.

"Posisi panen pertama dan kedua yang jelas banyak, sedangkan posisi panen yang ketiga dalam satu tahun memang sedikit dan memang perlu ada stok penyangga. Tetapi untuk konsumsi di kawasan Situbondo tidak khawatir, namun `kacamata` pemerintah secara nasional," katanya.

Oleh karena itu, lanjut Sentot, dalam tata niaga gabah/beras posisinya memang "mobile" yang artinya di mana ada panen padi juga ada pedagang yang melakukan tata niaga.

"Tentunya kami berharap pendapatan petani lebih tinggi agar petani sejahtera, dan peran pemerintah daerah bagaimana bisa melindungi petani agar tidak ditangani oleh pihak-pihak yang pembelian gabah petani yang dapat merugikan petani," paparnya.

Ia menambahkan, tidak ada aturan tata niaga yang tertutup atau tidak ada peraturan petani harus menjual gabahnya ke Bulog. Namun yang terpenting bagaimana menyejahterahkan petani dengan memperoleh pendapatan yang tinggi.

"Jadi kami harus melihat situasi perkembangan panen, pada saat panen awal Bulog tidak bisa memaksakan masuk atau membeli gabah petani karena harga masih tinggi, ketika mulai masuk panen raya harga gabah akan turun dan disitulah peran Bulog masuk dan membeli gabah petani untuk stabilisasi harga," katanya. (*)

Pewarta: Novi Husdinariyanto

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2018