Banyuwangi (Antara Jatim) - Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur fokus memperkuat sumber daya manusia (SDM), kompetensi, dan jaringan kerja sama atau "networking" Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) .

"Penguatan tiga hal itu adalah bagian penting untuk menjadikan lulusan SMK dapat bersaing dan menjadi pemenang di era globalisasi," kata Saifullah Yusuf yang biasa dipanggil Gus Ipul saat membuka Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK ke-26 Tingkat Provinsi Jatim di GOR Tawangalun, Kabupaten Banyuwangi, Senin.

Menurutnya penguatan SDM di antaranya melalui pendidikan karakter, sehingga terwujud generasi yang punya jati diri, disiplin, memiliki sopan santun, berakhlak mulia, serta cinta tanah air karena karakter yang kuat akan menghindarkan generasi muda dari efek negatif budaya luar yang dibawa globalisasi.

"SMK kami dorong agar mendidik siswa-siswinya berkarakter, berpenampilan sesuai kebudayaan Indonesia, tapi punya karya berkualitas internasional. Mari kuatkan karakter anak-anak, supaya punya jati diri dalam menghadapi era globalisasi," tuturnya.

Penguatan kompetensi, lanjut dia, dilakukan oleh Pemprov Jatim melalui revitalisasi SMK yang sejalan dengan instruksi pemerintah pusat melalui Inpres No. 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Pendidikan Menengah Kejuruan yang kemudian ditindaklanjuti Pemprov Jatim melalui Pergub No. 22 Tahun 2017 tentang Percepatan Revitalisasi SMK, Pengelolaan SMK Berbasis Badan Layanan Umum Daerah, SMA Dual Track, dan SMK Berstandar Dunia.

"Revitalisasi SMK sangat penting dan perlu segera diwujudkan, di antaranya adalah membuat komposisi perbandingan sebanyak 30 persen untuk SMA dan 70 persen SMK. Selain itu, lulusan SMK harus bersertifikasi, tidak hanya berstandar nasional saja, melainkan juga harus berstandar internasional," tuturnya.

Selain komposisi, lanjutnya, revitalisasi pendidikan vokasional (SMK) juga berlaku pada kurikulumnya, sehingga diharapkan kurikulum pendidikan SMK harus menyesuaikan kebutuhan pasar atau lapangan kerja, yaitu industri atau perusahaan dengan praktek yang awalnya 30 persen diubah menjadi 70 persen dan sebaliknya, teori di dalam kelas yang awalnya 70 persen menjadi 30 persen.

Kemudian, penguatan jaringan kerja sama atau networking juga dilakukan dengan menggandeng Perguruan Tinggi (PT) baik negeri maupun swasta, sehingga dengan begitu diharapkan kualitas SMK benar-benar teruji dan terukur, dan lulusannya bisa benar-benar siap terjun ke dunia kerja dan usaha.

"Kami juga bekerjasama dengan Jerman, Inggris, Jepang, serta Korea untuk mengurus SMK di Jatim," kata pria kelahiran Pasuruan itu.

Sementara Ketua Panitia yang sekaligus Kepala Dinas Pendidikan Jatim Saiful Rachman mengatakan tujuan di gelarnya LKS adalah untuk mengukur pencapaian kompetensi siswa SMK di Jatim dibandingkan dengan standar baku yang berlaku secara nasional, maupun internasional.

"Ukuran kompetensi itu meliputi sistem pembelajaran, keahlian, SDM, dan sumber daya fasilitas karena itu dalam LKS akan disusun peringkat peserta yang akan dijadikan dasar dalam seleksi peserta lomba yang akan mewakili Jatim dalam LKS tingkat nasional," ujarnya.

Ia mengatakan hasil yang diharapkan dari LKS itu terpilihnya siswa terbaik untuk mewakili Jatim di LKS tingkat nasional, memupuk persiapan dan kerja sama pengembangan SMK, meningkatkan citra SMK sebagai pilihan tepat pendidikan yang berkualitas, serta pematangan kompetensi siswa SMK se-Jatim.

Lomba kompetensi siswa itu diikuti oleh siswa-siswi SMK negeri dan swasta dari seluruh Jatim sebanyak 1.142 siswa, pembimbing siswa-siswi sejumlah 1.050 orang, kemudian LKS itu terdiri dari 51 bidang keahlian seperti bidang teknologi, bisnis manajemen, pariwisata, kesehatan, pertanian dan kemaritiman.(*)

Pewarta: Zumrotun Solichah

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017