Surabaya (Antara Jatim) - Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Warsono meluncurkan buku
tentang Pancasila yang berjudul "Pancasila-isme dalam Dinamika
Pendidikan" di kampus Unesa Surabaya, Senin.
Dalam diskusi dan bedah buku karyanya tersebut, hadir Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo, Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur Jonathan Judianto, serta Pengamat Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo.
Warsono menyatakan Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat untuk Indonesia di tengah isu kebhinnekaan yang berkembang saat ini.
"Sebagai contoh, sila pertama itu datang karena kebutuhan dasar manusia mengenal penciptanya. Sila kedua tentang bagaimana nilai dasar kemanusiaan, serta sila ketiga tentang kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, dan seterusnya sampai sila kelima. Pancasila tepat untuk bangsa Indonesia karena memang sesuai dengan kebutuhan hidup bangsa," kata Warsono.
Warsono mengatakan salah satu isu krusial tentang Pancasila adalah pengamalannya pada kehidupan. Tentang hal ini, dirinya memandang tantangan pengamalan Pancasila adalah soal diri pribadi.
"Misalnya begini, selalu ada pertarungan dalam diri, apakah mementingkan diri sebagai individu atau kepentingan sosial. Oleh karena itu yang paling penting adalah menyeimbangkan antara kepentingan diri atau kebebasan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.
Sementara itu Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengapresiasi buku karya Warsono tersebut. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai buku tentang pancasila tersebut penting mengingat isu yang berkembang saat ini.
"Pancasila ini bernilai penting terlebih setelah 19 tahun reformasi nilai-nilai kebangsaan dianggap sudah memudar," katanya.
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dalam sambutannya berharap Pancasila menjadi ideologi yang bekerja. "Saya berharap Pancasila menjadi ideologi yang bekerja di tingkat masyarakat, tidak selesai di wacana atau perayaan tetapi dapat diaplikasikan untuk kehidupan nyata sehari-hari," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini.
Sementara itu, pengamat komunikasi dan politik Unair Suko Widodo menilai problem Pancasila adalah soal komunikasi antargenerasi. Meski Pancasila berlaku pada setiap generasi, perlu dipikirkan langkah yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dengan metode yang tepat.
"Banyak cara untuk mengajarkan Pancasila, bila kita boleh belajar pada Amerika, mereka mengajarkan nilai kebangsaan melalui produk kebudayaan seperti Film. Coba dilihat, pada hampir film Hollywood banyak nilai kebangsaan Amerika yang dimunculkan seperti pemunculan bendera," kata Suko.
Untuk itu, Suko berharap kalangan pendidikan selalu dinamis dalam merumuskan metode pengajaran Pancasila untuk generasi selanjutnya.
Di depan peserta yang merupakan para calon pengajar, secara khusus, dia menaruh harapan besar pada Unesa untuk turut mengambil peran dalam penyebaran dan pengajaran Pancasila.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017
Dalam diskusi dan bedah buku karyanya tersebut, hadir Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan, Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo, Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur Jonathan Judianto, serta Pengamat Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo.
Warsono menyatakan Pancasila merupakan ideologi yang paling tepat untuk Indonesia di tengah isu kebhinnekaan yang berkembang saat ini.
"Sebagai contoh, sila pertama itu datang karena kebutuhan dasar manusia mengenal penciptanya. Sila kedua tentang bagaimana nilai dasar kemanusiaan, serta sila ketiga tentang kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, dan seterusnya sampai sila kelima. Pancasila tepat untuk bangsa Indonesia karena memang sesuai dengan kebutuhan hidup bangsa," kata Warsono.
Warsono mengatakan salah satu isu krusial tentang Pancasila adalah pengamalannya pada kehidupan. Tentang hal ini, dirinya memandang tantangan pengamalan Pancasila adalah soal diri pribadi.
"Misalnya begini, selalu ada pertarungan dalam diri, apakah mementingkan diri sebagai individu atau kepentingan sosial. Oleh karena itu yang paling penting adalah menyeimbangkan antara kepentingan diri atau kebebasan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.
Sementara itu Ketua MPR RI Zulkifli Hasan mengapresiasi buku karya Warsono tersebut. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menilai buku tentang pancasila tersebut penting mengingat isu yang berkembang saat ini.
"Pancasila ini bernilai penting terlebih setelah 19 tahun reformasi nilai-nilai kebangsaan dianggap sudah memudar," katanya.
Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dalam sambutannya berharap Pancasila menjadi ideologi yang bekerja. "Saya berharap Pancasila menjadi ideologi yang bekerja di tingkat masyarakat, tidak selesai di wacana atau perayaan tetapi dapat diaplikasikan untuk kehidupan nyata sehari-hari," kata pria yang akrab disapa Gus Ipul ini.
Sementara itu, pengamat komunikasi dan politik Unair Suko Widodo menilai problem Pancasila adalah soal komunikasi antargenerasi. Meski Pancasila berlaku pada setiap generasi, perlu dipikirkan langkah yang tepat untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dengan metode yang tepat.
"Banyak cara untuk mengajarkan Pancasila, bila kita boleh belajar pada Amerika, mereka mengajarkan nilai kebangsaan melalui produk kebudayaan seperti Film. Coba dilihat, pada hampir film Hollywood banyak nilai kebangsaan Amerika yang dimunculkan seperti pemunculan bendera," kata Suko.
Untuk itu, Suko berharap kalangan pendidikan selalu dinamis dalam merumuskan metode pengajaran Pancasila untuk generasi selanjutnya.
Di depan peserta yang merupakan para calon pengajar, secara khusus, dia menaruh harapan besar pada Unesa untuk turut mengambil peran dalam penyebaran dan pengajaran Pancasila.(*)
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017