Surabaya (Antara Jatim) - Tim Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga membuat sebuah inovasi dengan mengembangkan sebuah produk alat diagnosa terhadap penyakit toksoplasma.

"Alat ini diberi nama “Toxo Kit”. Pembuatannya dilatarbelakangi karena banyaknya kebutuhan alat diagnosa, salah satunya toksoplasma,” ujar salah satu Tim Dosen, Dr Mufasirin, di Unair, Surabaya, Kamis.

Mustafirin menjelaskan, toksoplasma adalah sebuah penyakit yang diakibatkan oleh parasit Toksoplasma gondii, yang dapat ditularkan oleh kucing dan dapat menimbulkan keguguran pada ibu hamil.

Dia bersama rekannya Prof Dr Lucia Tri Suwanti, Prof Dr Suwarno, Prof Meles, Dr Hani Plumerastuti dan drs Zainul untuk pertama kali membuat dan meneliti pada tahun 2014, sampai saat ini alat tersebut masih dalam proses pengembangan.

"Semua biaya dan dana penelitian Toxo Kit dibiayai oleh Kemenristek Dikti ini dalam rangka peningkatan mutu dosen," katanya.

Selama ini, kata dia pengujian adanya toksoplasma lebih sering menggunakan alat diagnosa bernama “Uji ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)”. Namun, untuk mengetahui hasil uji, Uji ELISA dianggap memakan waktu yang lama yaitu dua hari.

"Sedangkan, hasil dari uji penggunaan Toxo Kit hanya membutuhkan waktu 10 hingga 15 menit," urainya.

Dirinya menjelakan, cara kerja alat Toxo Kit ini hampir sama dengan alat penguji kehamilan (Test pack).
 
"Pertama, darah pasien diambil, kemudian diendapkan, dan diteteskan ke dalam alat Toxo Kit. Setelah beberapa saat akan diketahui hasil. Jika hasil cenderung positif, maka garis yang keluar adalah dua garis," tuturnya.

Sementara jika cenderung negatif, maka hanya ada satu garis yang akan keluar pada alat tersebut.

Toxo Kit, lanjut dia mengandung antigen yang bekerja menangkap material yang ada di sampel atau antibodi. Kemudian dilengkapi dengan kandungan sinyal reaksi, yakni suatu materi yang akan bereaksi.

Jika hasil sampel menunjukkan nilai positif, sinyal reaksi akan berubah warna. Toxo Kit memiliki sensitivitas atau keakuratan sebanyak 73.5 persen dan spesifitas 66,7 persen.

"Alat ini belum bisa dikomparasikan dengan uji toksoplasma yang konvensional, memang standarnya menggunakan Uji ELISA, namun Toxo Kit ini hadir digunakan sebagai alternatif awal sebagai diagnosa adanya toksoplasma," tandas Mufasirin.

Dengan adanya Toxo Kit ini, Mufasirin dan tim berharap, kit tersebut dapat membantu masyarakat dalam diagnosa toksoplasma yang dianggap mahal dan memakan waktu lama. Ke depan, Mufasirin dan tim juga berusaha mengoptimalisasikan alat tersebut dengan meningkatkan keakuratan dan spesifitas

“Kita juga sudah berkomunikasi dengan salah satu produsen kimia untuk produksi alat ini. Mereka memiliki standar tersendiri untuk sebuah alat yang akan di produksi. Maka dari itu kita akan memperbaiki kualitas agar tidak banyak berubah ketika diproduksi massal,” terang Wakil Dekan II FKH Unair tersebut.

Selain itu, Mufasirin dan tim berencana untuk mengembangkan kit ini menjadi alat yang multiguna. Tidak hanya bisa mendeteksi Immuniglobulin G, tapi juga Immunoglobulin M. Sehingga mampu mendeteksi lebih dari satu macam penyakit.(*)

Pewarta: willy irawan

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017