Bojonegoro (Antara Jatim) - Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro, Jawa Timur, menyebutkan kadar gula tanaman tebu pada musim panen tahun ini berkisar 6,2-6,8 persen menurun dibandingkan kondisi normal yang bisa berkisar 7-8 persen.
"Menurunnya kadar gula tanaman tebu tahun ini dipengaruhi hujan yang masih turun pada musim kemarau," kata Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dishutbun Bojonegoro Khoirul Insan, Selasa.
Menurut dia, kadar gula tanaman tebu di daerahnya berkisar 6,2-6,8 persen itu diketahui dari tanaman tebu yang sudah terpanen sekitar 30 hektare milik petani di wilayah barat hasil kerja sama dengan PG Purwodadi Magetan.
"Produksi tanaman tebu petani semuanya ditampung pabrik gula, sebab polanya para petani memperoleh kredit dalam menanam tebu," jelasnya dia didamping stafnya Nono Habe.
Ia menyebutkan tanaman tebu di daerahnya luasnya mencapai 1.600 hektare yang ditanam di lahan kering dan irigasi teknis.
Selain PG Purwodadi, lanjut, tanaman tebu itu merupakan pengembangan tanaman tebu sejumlah PG, antara lain, PG Jombang Baru (Jombang), PG Lestari (Kertosono) dan PG di Mojokerto.
Lainnya, PG Sudono (Ngawi), PG Rejosari (Magetan), PG Rejoagung (Madiun) dan PG di Lamongan.
"Semua tanaman tebu di daerah kami sekarang baru awal panen," ucapnya menambahkan.
Lebih lanjut ia menjelaskan jadwal musim giling sejumlah PG yang mengembangkan tanaman tebu di daerahnya yang juga awal musim tebang tanaman tebu akhir Mei.
Tapi hujan yang masih turun di musim kemarau mempengaruhi jadwal tebang sehingga mundur menjadi petengahan Juni.
"Kalau jadwal tebang dipaksakan maka kadar gula tebu akan rendah sehingga harus menunggu dulu," ujarnya.
Ia menambahkan PG tidak memberikan insentif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebunya lebih awal.
"Biasanya PG memberikan insentif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebunya lebih awal. Tapi tahun ini tidak ada kebijakan dari PG untuk memberikan insetif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebu lebih awal," katanya. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016
"Menurunnya kadar gula tanaman tebu tahun ini dipengaruhi hujan yang masih turun pada musim kemarau," kata Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dishutbun Bojonegoro Khoirul Insan, Selasa.
Menurut dia, kadar gula tanaman tebu di daerahnya berkisar 6,2-6,8 persen itu diketahui dari tanaman tebu yang sudah terpanen sekitar 30 hektare milik petani di wilayah barat hasil kerja sama dengan PG Purwodadi Magetan.
"Produksi tanaman tebu petani semuanya ditampung pabrik gula, sebab polanya para petani memperoleh kredit dalam menanam tebu," jelasnya dia didamping stafnya Nono Habe.
Ia menyebutkan tanaman tebu di daerahnya luasnya mencapai 1.600 hektare yang ditanam di lahan kering dan irigasi teknis.
Selain PG Purwodadi, lanjut, tanaman tebu itu merupakan pengembangan tanaman tebu sejumlah PG, antara lain, PG Jombang Baru (Jombang), PG Lestari (Kertosono) dan PG di Mojokerto.
Lainnya, PG Sudono (Ngawi), PG Rejosari (Magetan), PG Rejoagung (Madiun) dan PG di Lamongan.
"Semua tanaman tebu di daerah kami sekarang baru awal panen," ucapnya menambahkan.
Lebih lanjut ia menjelaskan jadwal musim giling sejumlah PG yang mengembangkan tanaman tebu di daerahnya yang juga awal musim tebang tanaman tebu akhir Mei.
Tapi hujan yang masih turun di musim kemarau mempengaruhi jadwal tebang sehingga mundur menjadi petengahan Juni.
"Kalau jadwal tebang dipaksakan maka kadar gula tebu akan rendah sehingga harus menunggu dulu," ujarnya.
Ia menambahkan PG tidak memberikan insentif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebunya lebih awal.
"Biasanya PG memberikan insentif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebunya lebih awal. Tapi tahun ini tidak ada kebijakan dari PG untuk memberikan insetif kepada petani yang bersedia memanen tanaman tebu lebih awal," katanya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016