Bojonegoro (Antara Jatim) - Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Bojonegoro, Jawa Timur, menyatakan tanaman tembakau awal tanam di daerah setempat terganggu hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir.
     
"Tanaman tembakau yang baru awal tanam terganggu hujan, bahkan ada yang mati sehingga petani harus menyulam," kata Kepala Bidang Usaha Perkebunan Dishutbun Bojonegoro Khoirul Insan, di Bojonegoro, Rabu.
     
Ia menjelaskan hujan yang turun di daerahnya itu bisa mengakibatkan jadwal tanam petani dalam menanam tembakau mundur.
     
"Akhir Juni seharusnya masa terakhir tanam. Tapi melihat hujan yang masih turun kemungkinan jadwal tanam mundur," ucapnya, menegaskan. 
     
Oleh karena itu, ia mengaku belum tahu secara pasti luas areal tanaman tembakau Virginia Voor Oogst (VO) dan Jawa yang sudah tertanam.
     
"Kami belum tahu data luas areal tanaman tembakau," ucapnya, menegaskan.
     
Ia hanya menyebutkan petani yang sudah mulai menanam tembakau, antara lain, di sejumlah desa di Kecamatan Sugihwaras, Kedungadem, Kepohbaru, Malo dan kecamatan lainnya.
     
"Di Sugihwaras ada tanaman tembakau sekitar 300 hektare, sedangkan di Kedungadem sekitar 120 hektare," ucapnya, menegaskan.
     
Terkait terganggunya tanaman tembakau dibenarkan Ketua Kelompok Tani di Kecamatan Malo, Bojonegoro Suharsono yang menyebutkan petani di sejumlah desa di Kecamatan Malo, antara lain, di Desa Sudu, sudah melakukan sulaman dua kali.
     
Ia juga mencontohkan dirinya juga menanam tembakau Jawa sebanyak 10.000 pohon, sebagian di antaranya mati disebabkan hujan yang turun dalam sepekan terakhir.  
     
Hujan, lanjutnya, memicu tanah di sawah rontok dan menimbun tenaman tembakau yang masih kecil sehingga mati.
     
"Kalau benih tanaman tembakau tersedia karena banyak petani yang membuat pembenihan," ucapnya, menambahkan.
     
Sesuai data, katanya, sejumlah pabrikan, juga pengusaha tembakau, yang sudah melapor akan melakukan pembelian tembakau Virginia VO dan jawa, pada musim tanam tahun ini, dengan jumlah mencapai 8.400 ton tembakau kering. 
     
Berdasarkan permintaan itu, ia memperkirakan luas tanaman tembakau yang dibutuhkan, untuk mencukupi kebutuhan pabrikan dan pengusaha yang melakukan pembelian musim tanam tahun ini sekitar 7.000 hektare. (*)

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016