Bojonegoro (Antara Jatim) - Petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mulai mengajukan permintaan pasokan air Waduk Pacal, untuk mencukupi kebutuhan air tanaman padi musim tanam (MT) II, disebabkan hujan sudah mulai langka.
     
Kasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Air Dinas Pengairan Bojonegoro Dody Sigit Wijaya, di Bojonegoro, Selasa, mengatakan, petani di sejumlah desa di Kecamatan Sumberrejo, dengan luas 6.558 hektare, mengajukan permintaan air waduk, sejak pekan lalu.
     
Namun, menurut dia, permintaan memperoleh pasokan air Waduk Pacal, belum bisa dipenuhi, karena masih menunggu pengajuan permintaan air dari petani lainnya, di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, Kapas dan Balen.
     
Sesuai data, katanya, petani di sejumlah kecamatan di sepanjang irigasi Waduk Pacal, yang membutuhkan pasokan air Waduk Pacal, luasnya bisa mencapai 12.000 hektare lebih.
     
"Kami masih menunggu surat pengajuan permintaan petani lainnya melalui himpunan petani pemakai air (HIPPA), yang akan menjadi dasar pengeluaran air Waduk Pacal. Kalau lancar kemungkinan pekan ini air Waduk Pacal sudah bisa dikeluarkan," jelas dia.
     
Sesuai prosedur, katanya, pengeluaran air Waduk Pacal bisa dilakukan, kalau ada pengajuan permintaan air dari petani melalui HIPPA. 
     
Dengan dasar pengajuan HIPPA itu, katanya, baru diajukan kepada Unit pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro.
     
"Sesuai perhitungan kami kebutuhan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman padi MT II sekitar 5 meter kubik per detik. Besarnya debit air itu bisa menjangkau tanaman padi di sepanjang irigasi Waduk Pacal," paparnya.
     
Lebih lanjut ia menjelaskan petani di sepanjang irigasi Waduk Pacal, sekarang ini mulai mengawali menanam padi termasuk membuat pembenihan untuk tanaman padi musim tanam (MT) II, sehingga membutuhan air.
     
Hanya saja, pintu pengeluaran air Waduk Pacal di Desa Kedungsumber, Kecamatan Temayang, ditutup sejak pekan lalu. 
     
Ketika pintu pengeluaran ditutup ketinggian air Waduk Pacal mencapai 114,00 meter dengan debit 19,6 juta meter kubik. Tapi, ketinggian air waduk masih meningkat karena memperoleh pasokan air hujan. 
     
Ketinggian air di waduk peninggalan Belanda itu, meningkat menjadi 114,40 meter, dengan debit sekitar 20,299 juta meter kubik, per 3 Mei."Idealnya ketinggian air Waduk Pacal 113,4 meter, karena ada bangunan pelimpasnya yang rusak," ucapnya.
     
Data di kantor Dinas Pengairan, Waduk Pacal memiliki daerah irigasi pertanian seluas 16.688 hektare di sejumlah desa di Kecamatan Sukosewu, Balen, Kapas, Sumberrejo, Kepohbaru, dan Baureno.
     
Pada awal dibangun Belanda pada 1933, Waduk Pacal mampu menampung air mencapai 42 juta meter kubik, namun sekarang daya tampungnya menurun drastis, disebabkan sedimen yang masuk waduk mencapai 15 ribu meter kubik per tahun, dan rusaknya bangunan pelimpas. (*)

      
  

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016