Madiun ((Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, Jawa Timur, mengimbau para petani di wilayah setempat untuk menanam palawija pada musim tanam kemarau kedua (MK II) yang mulai berlangsung pada Agustus ini guna menghindari kerugian akibat gagal panen. 
     
Bupati Madiun Muhtarom, mengatakan imbauan tersebut diberikan menyusul peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi akan terjadi kemarau panjang sebagai dampak Elnino pada musim kemarau tahun 2015 ini. 
    
 "Di setiap pertemuan, selalu saya infokan ke petani agar mengantisipasi kemarau panjang. Untuk menghindari kerugian, petani harus menerapkan pola tanam padi, padi, dan palawija. Karena saat kemarau panjang petani harus menyesuaikan dengan iklim dan ketersediaan air tanah," ujar Bupati Muhtarom, kepada wartawan, Kamis.
     
Sisi lain, penerapan pola tanam padi, padi, palawija juga memberikan kesempatan lahan pertanian untuk mengembalikan kesuburannya. Sehingga juga dapat memutus rantai hidup organisme pengganggu tanaman padi. 

Meski demikian, pihaknya tidak dapat memaksa petani untuk bercocok tanam palawija jika yang bersangkutan ingin menanam apa saja pada musim tanam kedua ini. 
     
Sesuai anjuran dan aturan, normalnya untuk menghadapi musim kemarau panjang, petani menerapkan pola tanam padi, padi dan palawija. Namun, nyatanya, masih banyak petani tetap menggunakan pola tanam padi, padi dan padi. 
     
"Alasan petani tetap menanam padi pada musim tanam kedua ini karena biasanya tidak ada hama dan hasil panennya lebih banyak seiring harga gabah saat panen yang juga tinggi," terang Muhtarom.
     
Ia menjelaskan, jika petani tetap menanam padi, ia meminta tidak ada kasus rebutan air irigasi untuk lahan pertanian. Apalagi, saat ini sudah memasuki musim kemarau dan di sejumlah daerah sudah minim air irigasi. 
     
Sisi lain, penggunaan sumur pompa dengan menggunakan diesel untuk menyedot air dapat mengganggu ketersediaan air bawah tanah, sehingga mengganggu lingkungan dan pasokan air bersih untuk rumah tangga atau lainnya. 
    
 "Untuk itu, sangat disarankan petani menanam palawija saat musim kemarau. Karena jelas tidak efisien dan bisa mengganggu ekosistem air. Namun, ya itu tadi, pemerintah hanya sebatas mengimbau," tambahnya.
    
 Sementara, sesuai prediksi BMKG, kemarau panjang dampak dari Elnino akan mengalami puncaknya pada bulan Oktober hingga November mendatang. Para petani diminta siap mengantisipasi kondisi alam tersebut, sebab ketersediaan air waduk untuk irigasi akan menurun drastis. (*)

Pewarta: Louis Rika Stevani

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015