Oleh Abd Aziz Bangkalan (Antara) - Keluarga Siti Zaenab, TKI yang dieksekusi mati di Arab Saudi, Rabu malam, mengggelar tahlilan pada hari pertama kematian TKI asal Desa Martajesa, Kecamatan Kota, Bangkalan. Ratusan orang dari kerabat dekat dan tetangga Zaenab datang ke rumah duka setelah shalat magrib, untuk bertahlil. Sebelum tahlil, mereka terlebih dahulu menggelar shalat ghaib untuk Zaenab yang dipimpin oleh tokoh ulama di desa itu, Abbas. "Terima kasih kepada saudara-saudara sekalian yang telah meluangkan waktu, untuk mendoakan almarhumah, semoga ia tenang disisi-Nya, diampuni dosanya dan mendapatkan tempat yang layak," kata Abbas sebelum memimpin tahlil pada hari pertama itu. Menurut keponakan Zaenab Tri Cahyono, tahlilan akan digelar hingga tujuh hari kedepan, sesuai dengan tradisi ke-Islam-an Zaenab selalu warga Nahdlatul Ulama (NU). Pada hari pertama tahlilan ini, tidak kurang dari seratus orang yang datang ke rumah Zaenab di Desa Martajasa, Kecamatan Kota, Bangkalan. Beberapa penjaga makan Syaichona Kholil Bangkalan yang memang berdekatan dengan rumah TKI itu juga datang ke rumah Zaenab untuk bertahlil. Sementara, kedua anaknya, yakni Ali Ridho dan Syarifuddin juga ikut tahlil bersama warga, namun wajahnya tetap nampak murung, bahkan sesekali meneteskan air mata. Terpidana mati Siti Zaenab, TKI asal Desa Martajasa, Bangkalan, Madura itu, meninggalkan dua orang anak, yakni Moh Ali Ridho (17) dan Syarifuddin (21). Kedua anak TKI asal Kota Salak ini merupakan hasil perkawinannya dengan orang Makassar, saat ia bekerja sebagai TKI di Malaysia, sebelum yang bersangkutan menjadi TKI di Arab Saudi. Zaenab berangkat menjadi TKI di Arab Saudi, saat putra keduanya Ali Ridho masih bayi. Kala itu, ia berangkat melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yakni PT Panca Bayu Aji Sarti yang berada di Jakarta. Zaenab berangkat ke Arab Saudi bersama enam orang asal Bangkalan, yakni dua orang laki-laki dan empat orang perempuan. Salah satunya bernama Agus Rianto, sepupunya sendiri. Namun sesampainya di Arab Saudi, Agus dan Zaenab berbeda tempat bekerja. Agus diterima sebuah restoran, sedangkan Zaenab menjadi pengasuh bayi (baby sister), hingga akhirnya terjadi kasus pembunuhan itu. Tidak hanya warga dan kerabat dekat Zaenab, beberapa anggota TNI dari KOramil Bangkalan, juga terlihat hadir di rumah Zaenab, bahkan mereka datang lebih awal membantu mendirikan tenda di rumah Zaenab. "Ada 10 personel yang kami tugaskan secara khusus membantu keluarga TKI Zaenab itu," kata Danramil Sampang Kapten Moh Hariyanto. (*)

Pewarta:

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015