Pamekasan (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat melalui program Perpustakaan Seru (Perpuseru), yakni menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kegiatan ekonomi warga. "Melalui program ini, kami juga berupaya merevitalisasi fungsi perpustakaan daerah melalui peningkatan kapasitas pustakawan, sehingga perpustakaan dapat memberikan layanan yang lebih baik untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat termasuk para pemuda, perempuan, dan pengusaha mikro yang ada di Pamekasan ini," kata Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Pamekasan Ach Zaini, Senin. Program Perpuseru yang dicanangkan Perpustaan Daerah Pamekasan ini terselenggara atas kerja sama dengan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), dan Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF). Menurut Zaini, sejak perpustaan itu melaksanakan program Perpuseru banyak kemajuan yang terjadi dalam banyak hal. Baik dari penyediaan sarana dan prasara, hingga penyediaan buku, termasuk jumlah kunjungan atau masyarakat pembaca buku di perpustakaan itu juga meningkat. Tidak hanya itu saja, Perpustakaan Daerah Pamekasan juga mulai mengembangkan teknologi berbasis internet, termasuk penambahan anggaran dari Pemkab Pamekasan. "Sebab dalam program Perpuseru itu, kami juga dituntut untuk melakukan advokasi agar dukungan dana terus meningkat," katanya. Ia menuturkan, pada tahun 2012 anggaran yang disediakan pemkab dalam APBD untuk perpustakaan daerah itu hanya Rp400 juta setahun, pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp484 juta lebih. "Setelah mendapatkan pelatihan tentang advokasi dalam program Perpuseru yang bekerja sama dengan Cola-Cola Foundation ini, maka anggaran untuk perpustaan Pamekasan meningkat tajam pada PAK 2013, yakni mencapai Rp892 juta, dan pada 2014 ini mendapatkan anggaran Rp900 juta," katanya menjelaskan. Dari sisi kegiatan, Zaini menuturkan, hanya empat kegiatan rutin, seperti pengadaan koleksi, pinjam buku dan mengembalikan. Tapi setelah ada program Perpuseru itu, maka manfaat perpustakaan meningkat lebih luas. Demikian juga dengan jumlah pengunjung yang datang ke perpustaan itu. Pada tahun 2012 hanya 30.194 orang, lalu meningkat menjadi 62.566 pada 2013. Peningkatan jumlah pengunjung yang datang ke perpustakaan Pamekasan ini tidak lepas dari adanya pengembangan program dari sebelumnya yang hanya tempat membaca dan meminjam buku, menjadi pusat kegiatan ekonomi. Pada Senin sore, perwakilan BMFG Jeremy Paley bersama bersama Direktur Cola-Cola Foundation Indonesia Titie Sadarini dan Direktur Program Perpuseru Erlyn Sulistyaningsih melakukan kunjungan singkat ke Perpustaan Daerah Kabupaten Pamekasan. Mitra program Perpuseru Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah itu meninjau implementasi program, serta, serta potensi perluasan program. Jeremy juga berdialog dengan pengguna perpustakaan yang telah merasakan dampak positif dari program Perpuseru itu. Mereka dari itu dari kalangan peternak, pedagang batik dan pedagung kue. Abdul Wahid merupakan satu dari 12 orang yang telah merasakan manfaat program Perpuseru di Perpustaan Umum Daerah yang beralamat di Jalan Jokotole Pamekasan itu. Awalnya ia hanya sebagai petugas parkir di perpustakaan itu. Karena sering membaca buku-buku tentang peternakan dan banyak sering membuka internet di purpustakaan itu, pria ini akhirnya banyak menggali pengetahuan tentang teknik beternak ayam Bangkok dan kini yang bersangkutan mampu menambah penghasilan keluarganya dengan beternak ayam Bangkok dan ayam aduan di rumahnya. Hal serupa juga dialami Abdul Hamid, pengrajin batik tulis asal Proppo, Pamekasan. Pria berumur 28 tahun ini mengaku, sebelumnya ia membuka gerai batik di showroom batik yang disediakan pemkab di Jalan Jokotole Pamekasan. Akan tetapi penjualan batik tulis di Pamekasan lesu, karena Kabupaten Pamekasan bukan merupakan kabupaten yang menjadi tujuan wisata. Pengunjung yang datang ke Pamekasan juga sepi. Hamid kemudian memanfaatkan fasilitas IT dan internet yang tersedia di perpustakaan Pamekasan dan mengikuti pelatihan membuat website gratis yang digelar perpustaan itu. Berkat pemasaran online dengan memanfaatkan internet yang disediakan perpustakaan itu, kini pemasukan dari penjualan batik tulisnya meningkat hingga mencapai Rp5 juta per bulan. "Karena yang membeli bukan hanya warga Indonesia, tapi juga banyak dari negara lain, seperti Malaysia, Hongkong dan Brunai," kata pedagang batik lain yang juga memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Pamekasan, Aida. Menurut perwakilan BMFG Jeremy Paley, program Perpuseru ini telah dilaksanakan di hampir 20 negara di dunia, dan beberapa diantaranya, seperti Ukraina, Rumania, Kolombia dan Chile telah berjalan dengan baik. "Kalau di Indonesia ini ada sebanyak 34 perpustaan yang tersebar di 16 provinsi yang telah melaksanakan program ini, termasuk Perpustakaan Umum Daerah di Kabupaten Pamekasan ini," kata Jeremy Paley. Usai berdialog dengan warga yang telah memanfaatkan program Perpuseru itu, Jeremy Paley selanjutnya melihat secara langsung buku-buku di perputaan itu, terutama buku-buku tentang Madura yang terletak di lantai 2 di ruangan perpustakaan itu. (*)

Pewarta:

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2014