Pemerintah Kota Probolinggo, Jawa Timur mendeklarasikan rumah ibadah ramah anak untuk memperkuat toleransi di wilayah setempat yang dibuka oleh Wali kota Probolinggo Aminuddin di Puri Manggala Bhakti Kantor Wali Kota Probolinggo, Jumat.
"Komitmen menjaga kerukunan dan memperkuat nilai toleransi sejak usia dini terus digaungkan Pemerintah Kota Probolinggo," kata Aminuddin dalam sambutannya.
Kegiatan yang diinisiasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Probolinggo tersebut mengusung tema “Peran Strategis Perempuan dalam Menanamkan Toleransi Beragama Sejak Usia Dini”.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada FKUB Kota Probolinggo yang selama ini terus berkomitmen menjaga harmoni sosial, memperkuat dialog lintas agama, serta menghadirkan berbagai program yang menanamkan nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis dalam membentuk karakter generasi muda, terutama dalam menanamkan nilai toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan sejak usia dini.
“Perempuan, khususnya seorang ibu, merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari tangan seorang perempuan lah nilai kasih sayang, kepedulian, penghormatan terhadap perbedaan, serta semangat hidup rukun mulai diperkenalkan sejak dini,” katanya.
Ia mengatakan membangun toleransi sejak dini merupakan investasi penting untuk menyiapkan generasi masa depan yang inklusif, moderat, dan mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.
Ia juga mengapresiasi deklarasi Rumah Ibadah Ramah Anak yang menjadi langkah progresif dan mungkin yang pertama di Indonesia membicarakan rumah ibadah ramah anak.
"Idenya luar biasa. Kota Probolinggo adalah Kota Layak Anak dan berada pada peringkat utama. Tidak banyak kota di Indonesia yang meraih kategori itu. Itu peluang yang harus terus dijaga dan kembangkan,” ujarnya.
Menurutnya rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat ritual keagamaan, tetapi juga ruang pembelajaran moral, spiritual, sosial, dan kemanusiaan bagi anak-anak.
“Rumah ibadah harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak. Tempat yang menumbuhkan cinta kasih, mengajarkan kedamaian, membangun karakter, dan melindungi anak dari kekerasan maupun sikap intoleran,” katanya.
Sebagai bentuk komitmen bersama, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan penandatanganan Deklarasi Rumah Ibadah Ramah Anak oleh para tokoh lintas agama, perangkat daerah terkait, serta jajaran forkopimda.
Penandatanganan deklarasi tersebut menjadi simbol sinergi dan kolaborasi seluruh elemen dalam menciptakan rumah ibadah yang aman, inklusif, dan ramah bagi tumbuh kembang anak.
Sementara Ketua FKUB Kota Probolinggo Ahmad Hudri mengatakan bahwa perempuan dan anak menjadi fokus utama FKUB dalam membangun harmoni sosial di Kota Probolinggo.
“Kami menyadari bahwa hitam putihnya peradaban bergantung pada baik dan tidaknya perempuan. Ketika perempuan baik, maka peradaban juga akan baik,” ujarnya.
Ia mengatakan rumah ibadah perlu diubah paradigmanya agar tidak hanya menjadi tempat ritual semata, tetapi juga ruang pembinaan karakter generasi muda.
“Rumah ibadah adalah pusat informasi umat dan tempat integrasi sosial. Anak-anak harus merasa nyaman berada di rumah ibadah agar mereka dekat dengan agamanya dan dekat dengan Tuhannya,”
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026