Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo, Jawa Timur, meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi di sejumlah wilayah rawan bencana menyusul meningkatnya kejadian tanah longsor hingga pertengahan April 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun, di Ponorogo, Rabu, mengatakan pihaknya mencatat sedikitnya 50 kejadian bencana sejak awal tahun, dengan 41 di antaranya merupakan tanah longsor, enam banjir, dan tiga akibat cuaca ekstrem.

“Dominasi longsor ini dipengaruhi curah hujan yang masih tinggi serta masa peralihan musim,” katanya.

BPBD, lanjutnya, telah memperkuat upaya mitigasi dengan memetakan daerah rawan longsor, khususnya di kawasan perbukitan, serta meningkatkan patroli dan pemantauan saat hujan dengan intensitas tinggi.

Selain itu, BPBD juga menyiagakan personel dan peralatan di titik-titik rawan, mempercepat penanganan material longsor, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan relawan untuk respons cepat apabila terjadi bencana.

 

“Kami juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait tanda-tanda potensi longsor dan langkah evakuasi mandiri,” ujarnya.

Peristiwa terbaru terjadi di Kecamatan Slahung, di mana hujan deras memicu delapan titik longsor yang sempat menutup sebagian ruas jalan provinsi Ponorogo–Pacitan.

Material longsor langsung ditangani petugas gabungan sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas secara signifikan.

Masun menegaskan potensi bencana masih cukup tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras dengan durasi lama.

 

“Hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa, namun kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan,” katanya.


 

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Astrid Faidlatul Habibah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026