Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, mengungkapkan kegiatan Operasi Pasar Murni (OPM) yang digelar oleh pemerintah setempat turut serta mampu mengendalikan laju inflasi pada periode Maret 2026.

Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Pemkot Kediri Bambang Tri Lasmono di Kediri, Kamis (2/4) mengemukakan pemkot telah berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri dengan mengadakan OPM, Gerakan Pangan Murah (GPM). Selain komoditas cabai rawit, komoditas lainnya juga harganya relatif menjadi stabil.

OPM merupakan intervensi pemerintah dengan menjual bahan pokok secara langsung kepada masyarakat di lokasi tertentu dengan harga lebih murah dari harga pasar.

"Pada bulan Maret terjadi deflasi pada komoditas cabai rawit sebesar 0,03 persen, yang pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. Hal ini dampak dari beberapa upaya yang sudah dilaksanakan oleh TPID Kota Kediri" katanya di Kediri.

Pihaknya berharap program yang digelontorkan pemkot tersebut ke depan juga terus mampu menjaga harga komoditas bahan pokok sehingga tetap stabil di tengah kondisi geopolitik Internasional yang tidak menentu.

"Semoga harga komoditas tetap stabil di tengah kondisi geopolitik internasional yang tidak menentu, yang berdampak pada kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dunia sehingga berpotensi menjadi penyumbang inflasi," kata dia.

Dirinya juga mengimbau masyarakat agar berbelanja bijak sesuai kebutuhan dan tidak panic buying. Pemerintah terus berusaha untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas serta kestabilan harga.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono menambahkan di bulan Maret 2026, Kota Kediri mengalami inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,03 persen dengan nilai IHK mencapai 110,41. Sementara itu, inflasi bulanan (month to month/m-to-m) tercatat sebesar 0,41 persen.

Menurut Emil, terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi dinamika harga pada Maret 2026. Di antaranya adalah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku sejak 1 Maret 2026.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan, seperti cabai merah yang terus meningkat disepanjang bulan.

Permintaan komoditas pangan juga mengalami peningkatan terutama selama bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

"Komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras dan daging sapi mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan masyarakat," katanya.

Ia menambahkan di sektor transportasi, terjadi kenaikan tarif angkutan udara, angkutan antarkota dan kendaraan travel. Berbeda dengan tarif kereta api yang justru mengalami penurunan.

Sementara itu, harga emas perhiasan juga tercatat mengalami penurunan di sepanjang bulan Maret sebagai dampak kondisi perekonomian global serta konflik geopolitik yang masih berlangsung.

Lebih lanjut, Emil menyebutkan beberapa komoditas yang dominan memberikan andil inflasi month to month (m-to-m), antara lain daging ayam ras yang menjadi komoditas penyumbang utama inflasi dengan andil sebesar 0,07 persen dan tingkat inflasi komoditas mencapai 3,56 persen.

Selanjutnya bensin dan angkutan antar kota yang masing-masing menyumbang 0,04 persen, ayam goreng sebesar 0,03 persen, tomat, kangkung dan daging sapi masing-masing memberikan andil sebesar 0,02 persen.

Sementara beras, bayam, sigaret kretek mesin (SKM), jagung manis, alpukat, jeruk, donat, bawang merah, serta tarif kendaraan travel masing-masing menyumbang 0,01 persen.

Sedangkan komoditas penahan inflasi bulan Maret diantaranya cabai rawit sebesar -0,03 persen, tarif kereta api, bawang putih dan minyak goreng sebesar -0,01 persen.

Pihaknya juga memberikan sejumlah catatan dan rekomendasi kepada TPID Kota Kediri untuk menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi komoditas pangan pascaperayaan Idul Fitri khususnya untuk komoditas beras, daging ayam ras dan telur ayam ras.

 

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : A Malik Ibrahim


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026