Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, masih menunggu arahan dari pimpinan pusat soal pemanfaatan lahan produktif menjadi lokasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di daerah ini.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Ekbang) Sekretaris Daerah Kabupaten Nganjuk Judi Ernanto mengatakan pemerintah kabupaten mendapatkan aduan beberapa warga yang mengaku keberatan soal pemanfaatan lahan produktif untuk KDMP.

"Kami masih menunggu arahan dari pimpinan. Namun, sebenarnya proses penentuan lokasi yang dipersoalkan warga telah melalui musyawarah desa khusus (musdesus)," katanya di Nganjuk, Sabtu.

Ia menambahkan secara aturan pemanfaatan tanah kas desa sebenarnya tidak ada masalah untuk digunakan sebagai lokasi KDMP.

Dirinya mengatakan seluruh tahapan pembangunan sebenarnya bertujuan mendukung program nasional, tanpa merugikan pihak mana pun, termasuk dalam rencana pembangunan gerai KDMP di Desa Loceret, Kabupaten Nganjuk.

Namun, pihaknya tetap mendorong adanya mediasi agar masalah tersebut bisa dicarikan jalan keluarnya sehingga program pembangunan KDMP bisa berjalan dan masyarakat dapat nilai positif dari program tersebut.

“Skema (penyelesaian) kami harapannya bisa mediasi," ujar dia.

Video viral di media sosial yang berisi sejumlah warga keberatan dengan pembangunan KDMP di Desa Loceret, Kabupaten Nganjuk. Rekaman video tersebut dibagikan akun Instagram @desa_loceret.

Dalam video yang beredar di media sosial itu, warga yang mengatasnamakan petani Desa Loceret mengungkapkan tentang dukungan akan program pembangunan KDMP.

Namun, warga menolak apabila pembangunan gerai koperasi tersebut dilakukan di atas lahan sawah produktif. Warga meminta agar lokasi pembangunan dipindahkan.

“Kami memohon kepada Bapak Presiden, agar pembangunan gedung Koperasi Merah Putih tidak didirikan di atas lahan pertanian yang masih produktif. Karena lahan pertanian yang ada di desa kami semakin berkurang,” kata salah seorang warga di video tersebut.

Warga mempersoalkan letak lahan yang dinilai tidak strategis karena berada di tengah area persawahan, berada di jalan buntu yang menjadi satu-satunya akses pertanian.

Selain itu, di lokasi itu memiliki akses jalan selebar 2,3 meter dengan jarak sekitar 200 meter dari jalan raya. Warga memanfaatkan jalan tersebut untuk sarana jalan ke lokasi pertanian.

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Vicki Febrianto


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026