Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) meminta agar masyarakat tidak makan buah bekas gigitan kelelawar guna mengantisipasi kemungkinan tertular virus Nipah.
"Ini penting kami ingatkan sebagai bentuk kewaspadaan dini, karena kelelawar ini merupakan salah satu hewan pembawa virus tersebut," kata Kepala Dinkes Kabupaten Pamekasan Saifudin di Pamekasan, Senin.
Selain itu Saifudin mengimbau agar masyarakat menghindari meminum legen atau air nira, karena jenis minuman dari pohon siwalan itu juga disukai hewan jenis kelelawar.
"Intinya, sebaiknya berhati-hati. Kalaupun ingin minum air nira, jangan minum yang mentah, tapi harus direbus hingga mendidih," kata dia.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, berasal dari kelompok virus yang dapat menyerang sistem pernapasan dan saraf dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
"Penularan bisa terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta dalam kondisi tertentu melalui kontak erat antarmanusia,” ucapnya.
"Saat ini kami memang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait penyakit ini melalui berbagai saluran media," tambahnya.
Saifudin menjelaskan virus Nipah dapat menyebabkan demam dan pembengkakan otak dengan tingkat kematian antara 40 hingga 75 persen.
"Tapi masyarakat tidak perlu khawatir dan panik. Yang lebih penting kalau ada gejala demam, batuk, nyeri kepala, segera mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya.
Selain itu ia meminta agar masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, istirahat yang cukup, dan cuci tangan sebelum makan.
"Jaga jarak dan gunakan alat pelindung diri apabila ada orang yang menderita demam dan batuk," kata Saifudin.
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026