Indonesia memiliki sumber daya dan ide berlimpah, namun sering melupakan kekuatan sejati bangsa berakar di desa yang kini hidup melalui gerakan pemuda membangun dan memberdayakan desa secara mandiri dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Gerakan pemuda membangun desa bukan menunggu instruksi atau menggantungkan dana pihak manapun, melainkan gerakan kesadaran bahwa perubahan datang dari keberanian anak muda turun langsung bekerja bersama masyarakat menggerakkan potensi lokal secara kolektif dan berkelanjutan.

Gerakan ini istimewa karena bergeser dari aktivitas sosial menuju pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan pemuda hadir sebagai penggerak UMKM, desa fasilitator literasi digital, pendamping petani nelayan, hingga inisiator ekowisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal yang potensial.

Pemuda tidak menggantikan peran masyarakat tetapi menumbuhkan kapasitas masyarakat agar berdiri sendiri, sehingga menciptakan dampak ekonomi nyata dan terukur bagi desa yang diberdayakan dengan pola pembangunan dari bawah yang lebih inklusif dan autentik.

Data nasional menunjukkan lebih dari 64 juta UMKM di Indonesia menyumbang sekitar 60 hingga 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja, sehingga aktivasi UMKM lokal melalui pendampingan pemuda sangat signifikan bagi perekonomian.

Satu desa, dengan 100 UMKM aktif yang meningkatkan omzet rata-rata dua juta rupiah per bulan melalui pendampingan pemuda dalam pemasaran digital kemasan dan akses pasar akan menciptakan perputaran ekonomi baru sekitar 200 juta rupiah per bulan atau 2,4 miliar rupiah per tahun.

Perputaran ekonomi tersebut jika direplikasi di 1.000 desa, maka potensi pergerakan ekonomi mencapai 2,4 triliun rupiah per tahun tanpa menunggu proyek besar atau investasi raksasa dari pemerintah pusat yang membutuhkan waktu lama dan birokrasi rumit dalam prosesnya.

Dampak lanjutan yang tercipta, meliputi peningkatan daya beli masyarakat terbukanya lapangan kerja lokal berkurangnya urbanisasi pemuda desa serta tumbuhnya kepercayaan diri masyarakat terhadap potensi wilayahnya sendiri yang menciptakan ekonomi tahan krisis inklusif dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Gerakan ini membangun modal sosial berupa kepercayaan gotong royong dan kepemimpinan lokal yang tidak tercatat di neraca keuangan, tetapi menjadi fondasi utama bagi pembangunan jangka panjang bangsa Indonesia yang lebih kuat dan berdaulat dari tingkat paling bawah.

Pemuda menjadi katalis perubahan dan desa yang berdaya adalah kunci Indonesia yang kuat, sehingga jika gerakan ini terus diperluas didukung ekosistem tepat dan dijaga independensinya maka negara ini sedang membangun masa depan paling autentik tanpa harus bergantung pada pihak luar.

Indonesia dibangun oleh jutaan tangan yang bekerja dengan hati, dan hari ini tangan-tangan itu banyak berasal dari pemuda desa yang membuktikan pembangunan dari desa oleh generasi penerus bangsa untuk Indonesia menciptakan harapan baru bagi kemajuan serta kemakmuran yang merata dan berkeadilan.

*) Ketua Dewan Pembina Solidaritas Pemuda Desa (SPEDA) Teguh Anantawikrama

Pewarta: Teguh Anantawikrama *)

Editor : Rachmat Hidayat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2025