Indonesia resmi memiliki platform video pendek karya anak bangsa melalui kehadiran Sople yang dikembangkan untuk memperkuat ketahanan digital nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di tengah dominasi platform asing.
“Indonesia termasuk lima negara dengan populasi terbesar di dunia, tetapi kita belum punya platform video pendek sendiri. Karena itu, kami membangun Sople, platform video pendek pertama yang lahir dari Indonesia,” kata Marketing Director Social Labs Roys Tanani di Surabaya, Senin.
Roys mengatakan pasar video pendek global selama ini dikuasai platform asing seperti TikTok dari Tiongkok serta Instagram Reels dan YouTube Shorts dari Amerika Serikat, sehingga Indonesia lebih banyak berperan sebagai konsumen.
Ia menegaskan kehadiran Sople bukan sekadar alternatif hiburan, tetapi bagian dari upaya membangun kemandirian dan ketahanan digital nasional.
“Tujuan kami bukan hanya ketahanan pangan, tetapi juga ketahanan digital. Ke depan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen platform asing, tetapi juga penghasil konten dan devisa digital,” ujarnya.
Menurut Roys, industri video pendek diproyeksikan tumbuh sangat pesat dengan nilai yang diperkirakan meningkat hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun ke depan, seiring meningkatnya penggunaan video sebagai sarana komunikasi, edukasi, dan pemasaran.
“Semua profesi sekarang bisa menjadi content creator, termasuk jurnalis, pendidik, hingga pelaku UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), bahkan penjualan sekarang hampir semuanya menggunakan video dan live shopping,” katanya.
Berbeda dengan platform global, Sople menawarkan skema monetisasi yang lebih ramah bagi kreator pemula karena pendapatan sudah bisa diperoleh sejak 1.000 tayangan pertama.
“Di Sople, 1.000 view pertama sudah dibayar Rp15 ribu. Kalau tembus 3 juta view, kreator bisa mendapatkan sekitar Rp45 juta. Ini untuk membantu kreator bertahan di masa awal,” ungkap Roys.
Ia menjelaskan pada banyak platform lain, kreator umumnya membutuhkan waktu 18 hingga 26 bulan sebelum bisa menghasilkan uang, kondisi yang dinilai memberatkan bagi pemula.
Selain itu, Sople mengembangkan algoritma sendiri untuk mempertemukan konten dengan audiens yang relevan sekaligus membuka peluang kemitraan bisnis.
“Misalnya, kreator konten kuliner, bukan hanya penonton yang kami cari, tetapi juga restoran atau pelaku usaha yang membutuhkan ide menu. Ini yang kami sebut marketing funnel,” katanya.
Sople juga menekankan konten positif dan edukatif bernuansa Indonesia dengan durasi minimal satu menit agar dapat dimonetisasi, serta dilengkapi sistem penyaring berbasis AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan).
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2025