NU Tolak Full Day School

  • Minggu, 23 Juli 2017 12:35

Warga nahdliyin menandatangani petisi penolakan program 'full day school' di atas sselembar kain putih yang dipasang di depan kantor PCNU Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (23/7). PBNU beserta jajaran PCNU di daerah menolak pelaksanaan program 'full day school' atau lima hari masuk sekolah dalam seminggu karena tidak selaras dengan program pendidikan informal diniyah yang dikembangkan NU melalui jaringan pondok pesantren maupun nonpesantren. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk/17

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah yusuf (kiri) bersama Bupati Tulungagung Syahri Mulyo (kedua kiri), Ketua DPRD Tulungagung Supriono (ketiga kiri) dan Ketua PCNU Tulungagung Abdul Hakim Mustofa (keempat kiri) menandatangani petisi penolakan program 'full day school' di atas selembar kain putih yang dipasang di depan kantor PCNU Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (23/7). PBNU beserta jajaran PCNU di daerah menolak pelaksanaan program 'full day school' atau lima hari masuk sekolah dalam seminggu karena tidak selaras dengan program pendidikan informal diniyah yang dikembangkan NU melalui jaringan pondok pesantren maupun nonpesantren. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk/17

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (kiri) memberi pidato sambutan saat menghadiri halalbbihalal dan silaturahim warga nahdliyin di kantor PCNU Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (23/7). Forum silaturahim warga nahdliyin tersebut digunakan ajaran PBNU dan PCNU untuk menggalang dukungan penolakan atas pelaksanaan program 'full day school' atau lima hari masuk sekolah dalam seminggu karena tidak selaras dengan program pendidikan informal diniyah yang dikembangkan NU melalui jaringan pondok pesantren maupun nonpesantren. Antara jatim/Destyan Sujarwoko/zk/17

Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah yusuf (kiri) menandatangani petisi penolakan program 'full day school' di atas sselembar kain putih yang dipasang di depan kantor PCNU Tulungagung, Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (23/7). PBNU beserta jajaran PCNU di daerah menolak pelaksanaan program 'full day school' atau lima hari masuk sekolah dalam seminggu karena tidak selaras dengan program pendidikan informal diniyah yang dikembangkan NU melalui jaringan pondok pesantren maupun nonpesantren. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk/17

Berita Terkait