Blitar - Komandan Batalyon Yonif 511/DY Blitar, Jawa Timur, Letkol Infanteri Rudi Andriono mengakui saat ini memang ada latihan anggota untuk menembak di lapangan yang ada di Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar. "Memang ada latihan yang dilakukan tiga bulan sekali, namun kejadian yang kemarin itu tidak ada unsur kesengajaan," katanya dikonfirmasi tentang peluru nyasar yang menembak tangan Tia Fitria (22), warga Kelurahan Klampok, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, Rabu. Ia mengatakan, latihan itu memang rutin dilakukan, namun untuk yang saat ini bukan istitusinya yang sedang latihan. Saat ini, masih dikonfirmasi tentang jadwal penggunaan lapangan yang digunakan untuk latihan menembak tersebut. Pihaknya menyebut, lokasi lapangan yang digunakan untuk latihan menembak oleh anggota itu hanya satu di Kelurahan Jatinom, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar. "Sebenarnya, kami sudah antisipasi, termasuk memasang tanggul yang cukup tinggi. Kami juga akan evaluasi dengan kejadian ini," ucapnya. Tentang peluru itu, ia mengatakan jika peluru itu kaliber 5,56 mm. Peluru itu, biasanya digunakan untuk senjata laras panjang jenis SSI V2 atau jenis M16. Jarak jangkau peluru itu mencapai 1 kilometer dan efektif 400 meter. Namun, ia juga menyebut anggota sudah mendatangi rumah Tia, yang menjadi korban peluru nyasar tersebut. Pihaknya juga sudah meminta maaf atas kejadian yang menimpanya serta memberikan tali asih untuk pengobatan lukanya, dan menyebut tidak ada unsur kesengajaan. Sementara itu, Kepala Polresta Blitar AKBP FX Surya Kumara menyebut peluru itu sampai sekarang masih disimpan di kantor polisi. Untuk tindak lanjutnya, masih akan koordinasi dengan institusi terkait. "Kami masih tangani dan peluru masih di markas," katanya singkat. Seorang perempuan di Kota Blitar terpaksa mendapatkan perawatan yang serius akibat luka yang dideritanya, Selasa (20/11). Tangan kananya tertembus peluru yang memantul dari arah atas. Saat itu, Tia dengan ibu dan sejumlah tetangganya sedang memilih bambu yang akan digunakan untuk baling-baling. Secara tiba-tiba, ia berteriak dan meminta tolong. Tangan kanannya mengucur darah. Ia sempat dibawa ke puskesmas lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mardi Waluyo dan diketahui di tangannya bersarang peluru. Petugas medis akhirnya melakukan operasi pengangkatan peluru itu, sehingga tidak sampai mengakibatkan luka yang lebih serius. Ia saat ini masih istirahat pascainsiden peluru nyasar yang melukai tubuhnya. Para tetangga dan keluarga pun juga datang menjenguknya. Walaupun keluarga sudah memaafkan, mereka masih khawatir hal yang sama akan terulang lagi.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026