Surabaya - PT Kereta Api Indonesia akan segera mengevaluasi pengoperasionalan dua unit Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) AC jurusan Surabaya ke Blitar dan Surabaya ke Madiun karena nilai okupansinya yang dinilai masih rendah. "Setelah November 2011, PT KAI segera mengevaluasi total pengoperasionalan dua KRDE ini. Alasannya, okupansi untuk KRDE jurusan Surabaya ke Blitar yang jauh dari harapan," ujar Manajer Humas PT KAI Daerah Operasional 8, Sri Winarto, di Surabaya, Selasa. Ia menjelaskan, bagi KRDE AC "Kelud Ekspress" jurusan Surabaya ke Blitar, setiap harinya hanya terpenuhi sekitar 30-40 persen penumpang saja. Sedangkan "Arjuna Ekspress" jurusan Surabaya ke Madiun, hanya 50-60 persen penumpang saja. Jika ditotal dari daya tampung penumpang yang mencapai 368 penumpang per satu unit kereta api maka setiap harinya hanya mengangkut tidak lebih dari 100-175 penumpang. Padahal perjalanan kedua KRDE setiap hari, baik dari dan mengarah ke Surabaya. Ada beberapa faktor yang dinilai mempengaruhi tingkat okupansi kedua KRDE tersebut, diantaranya harga tiket yang dianggap cukup tinggi. Kedua kereta sama-sama mengenakan tiga tingkat tarif, yakni tarif pendek Rp20 ribu, menengah Rp30 ribu dan jauh Rp50 ribu. "Dari perhitungan jelas mengalami kerugian dan kami memang kerap mendapat keluhan tentang persoalan harga. Sehingga tarif adalah salah satu yang menjadi bahan utama untuk dievaluasi bagaimana nasib KRDE AC ini ke depan," kata dia. Dalam evaluasi tersebut, lanjut Sri Winarto, akan dihasilkan keputusan tentang pengurangan harga tarif atau bahkan salah satu dari KRDE AC ini dikembalikan ke PT KAI Pusat untuk diberikan ke daerah operasional yang lain. "Nanti pada akhir November akan diputuskan hasil dari evaluasi. Sebab tiga bulan pascalebaran, KRDE AC ini masih dalam tahap sosialisasi ke masyarakat," tuturnya. (*)


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026