Gresik - Harga garam di wilayah Kabupaten Gresik, turun dari awalnya Rp700/kilogram menjadi Rp400/kilogram. Salah satu petani garam, Muhammad Fajri, Senin mengatakan, turunnya harga garam yang ada di pusat penghasil garam Desa Sukomulyo, Kecamatan Manyar terjadi akibat melimpahnya pasokan garam di berbagai daerah, sebab saat ini telah memasuki masa panen. Selain itu, rendahnya kualitas garam lokal dibanding dengan garam impor yang membanjiri pasar tradisional sehingga menimbulkan adanya permainan harga yang dilakukan para tengkulak. "Saat ini penetapan harga garam di pasaran banyak dipengaruhi para tengkulak yang menguasai pasar garam, sehingga harga garam turun meski saat ini para petani memasuki masa panen," katanya. Akibatnya, para petani garam yang ada di Desa Sukomulyo mengeluh karena tidak bisa menikmati keuntungan pada saat musim panen raya garam. "Biasanya saat musim kemarau panjang yang merupakan masa panen garam, petani bisa menikmati keuntungan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun kali ini tidak bisa akibat rendahnya harga garam," katanya. Ia memperkirakan, merosotnya harga garam ini akan berlangsung lama, sebab stok garam akan terus berlimpah karena sejumlah daerah juga memasuki masa panen raya yang membuat persediaan garam melimpah. Petani lain, Sulkan (53) mengakui, produktivitas garam di wilayah Kabupaten Gresik tahun ini meningkat hingga mencapai 10 ton/hektar, dari awalnya hanya 6 ton/hektare, hal ini akibat kemarau panjang yang terjadi di Gresik. (*) Meski demikian, dirinya mengaku tidak bisa menghindar dari turunya harga, karena penetapan harga garam dipengaruhi langsung dari para tengkulak. Sulkan mengaku pasrah dengan turunya harga, dan berharap ada kebijakan pemerintah untuk menyetop impor garam, sehingga produktivitas garam yang melimpah bisa diserap seluruhnya dan harga garam lokal bisa kembali membaik.(*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026