Gresik - Belasan mahasiswa di Kabupaten Gresik, Jawa Timur yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan aksi lempar tomat ke Gedung DPRD setempat sebagai bentuk kekecewaan atas kenaikan tunjangan perumahan anggota dewan dari Rp7 juta menjadi Rp10 juta. Koordinator aksi, Albustomi, Selasa, mengatakan, kenaikan tunjangan tidak seharusnya dilakukan dalam kondisi yang masih sulit seperti saat ini, sehingga anggota dewan wajib menolak kenaikan, dan bukan menerima kenaikan tunjangan. Ia mengatakan, kenaikan tunjangan yang dilakukan tidak mengedepankan kepentingan rakyat Gresik bahkan merugikan, karena dana kenaikan itu seharusnya bisa dialokasikan di sejumlah sektor seperti kesehatan dan pendidikan. ''Dana yang ada sebaiknya disalurkan ke sektor yang dibutuhkan rakyat, bukan malah untuk kemewahan anggota dewan yang sudah mendapat tunjangan,'' katanya. Menanggapi aksi itu, salah satu anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan, Jumanto mengaku siap menampung aspirasi belasan mahasiswa, dan akan mengajukan dalam rapat dewan. Ia mengaku belum bisa memutuskan menolak atau menerima kenaikan tunjangan perumahan, dan akan membicarakan kepada anggota lain dalam Fraksi PDI Perjuangan. Jumanto mengaku, kenaikan tunjangan perumahan sebelumnya didasarkan adanya kenaikan kebutuhan para anggota dewan, namun kenaikan itu masih terus diproses dan belum diputuskan. Sementara itu belasan mahasiswa dalam aksinya tidak hanya melempar tomat ke Gedung DPRD, namun juga sempat menaiki mobil dinas Bupati Gresik yang sedang diparkir di depan gedung itu, dan melakukan orasi di atas mobil. Usai menaiki mobil, belasan mahasiswa juga membagikan selebaran yang berisi tuntutan penolakan kepada masyarakat dan sejumlah pegawai di gedung DPRD Gresik. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026