Jakarta - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Kamis pagi belum bergerak nilainya atau stagnan di posisi Rp9.530 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis mengatakan, nilai tukar rupiah cenderung masih dalam tren "bearish" terhadap dolar AS, namun Bank Indonesia (BI) menjaga pergerakan mata uang domestik agar tidak tertekan lebih dalam.
"Dengan penjagaan BI rupiah akan bergerak sempit," kata Lana Soelistianingsih.
Ia menambahkan, ekonomi AS diperkirakan tidak seburuk yang diperkirakan ditengah pelemahan ekspor dan resesi ekonomi di Uni Eropa (UE).
"Ekonomi AS tumbuh 1,7 persen 'year on year' (YoY) pada triwulan dua 2012 lalu, melanjutkan pertumbuhan dua persen yoy pada triwulan sebelumnya," katanya.
Ia mengatakan, pertumbuhan yang lebih baik itu menunjukkan "consumer spending" masih tinggi. Pengeluaran masyarakat itu masih menyumbang sekitar 70 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS.
Meski data AS cukup baik, lanjut dia, kemungkinan tidak mencegah Bank Sentral AS atau The Fed memberikan stimulus baru karena masih belum mencapai target minimum pertumbuhan yang diharapkan yaitu dua persen "year on year", apalagi pasar tenaga kerja masih mencatat tingkat pengangguran sebesar 8,3 persen.
Lana juga mengatakan, nilai tukar rupiah cenderung melemah mengikuti pergerakan mata uang euro. Pergerakan euro masih terkait dengan perkembangan di Uni Eropa yang banyak ditentukan pada bulan September 2012.
Dikemukakan, tiga hal yang ditunggu investor yakni, keputusan ECB untuk membeli surat utang pemerintah Spanyol dan Italia yang akan diumumkan pada 6 September mendatang.(*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.