Aazaz (ANTARA/AFP) - Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Kamis mengumumkan berakhirinya misi pengamatnya di Suriah sementara para aktivis Hak Asasi Manusia melaporkan banjir darah dalam serangan terhadap warga sipil di Aleppo, medan pertempuran utama. Keputusan PBB itu diumumkan manakala masyarakat internasional terus menekan rezim Presiden Bashar al-Assad untuk mengakhiri 17 bulan perang saudara yang sekarang mengancam melebar ke Lebanon. "Kondisi untuk meneruskan misi UNSMIS tak terpenuhi," kata Duta Besar Prancis untuk PBB Gerard Araud setelah sidang mengenai konflik itu, merujuk kepada misi tersebut yang mandatnya akan berakhir Ahad tengah malam. Negara-negara besar masih berbeda pendapat mengenai bagaimana mengakhiri pertempuran brutal di Suriah dan penarikan para pengamat menyusul gagalnya rencana perdamaian yang dibuat oleh mantan utusan perdamaian Kofi Annan. Di medan pertempuran, para aktivis melaporkan bahwa pasukan Suriah menggempur sekelompok orang yang mengantri di toko roti di distrik Qadi Askar, Aleppo, medan tempur utama antara pasukan pemerintah dan pemberontak. Satu kelompok Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan 10 orang meninggal di distrik itu dan 84 orang telah tewas dalam kekerasan di seantero negeri itu. Pada Rabu, sekitar 40 orang termasuk wanita dan anak-anak tewas dalam serangan udara masif atas warga sipil di Aazaz, benteng pemberontak, sebelah utara Aleppo, kelompok-kelompok HAM dan penduduk. (*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026