Blitar - Sekitar 100 warga Blitar, Jawa Timur, yang tergabung dalam forum komunikasi rakyat Kota Blitar menggelar unjuk rasa di Dinas Pendidikan kota setempat menuntut pendirian sekolah bagi penyandang autis. "Anak penyandang autis mempunyai hak seperti anak normal lainnya yakni mendapatkan pendidikan yang layak. Kami menuntut pemerintah memberi perhatian lebih pada mereka," kata koordinator aksi, Susilo di Blitar, Rabu. Jumlah penderita autis di Kota Blitar cukup banyak, sekitar 60 anak yang sudah terdeteksi. Dari jumlah itu, mereka selama ini hanya mendapatkan pendidikan sekadarnya. Padahal, mereka masih mempunyai kesempatan untuk bisa pulih dan tumbuh seperti anak normal lainnya. Dalam aksinya, warga berkumpul di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Blitar. Mereka berjalan kaki menuju Dinas Pendidikan Kota Blitar. Massa juga membawa berbagai macam selebaran yang isinya tuntutan pemberian hak dan pendidikan yang sama untuk anak-anak autis, di antaranya membangun rumah khusus untuk anak autis. Kegiatan itu, selain diikuti warga yang terdiri dari wali murid, juga anak-anak autis. Mereka dengan semangat ikut unjuk rasa tersebut, dan berharap permintaan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak dikabulkan pemerintah. Massa sempat orasi ketika sampai di Dinas Pendidikan Kota Blitar. Mereka ditemui oleh Kepala Dinas setempat dan dialog untuk membincang tentang desakan untuk memperhatikan pendidikan anak-anak autis tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar Santoso mengatakan pemerintah memang mempunyai program untuk pendidikan anak-anak terutama yang menderita autis dengan mendirikan sekolah khusus. Saat ini, pemerintah berupaya mengajukan pada pemerintah pusat untuk pendirian sekolah yang dikemas dalam "autis center". Rencana lokasi pendirian sekolah itu di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Lor, Kota Blitar. "Kami masih mengajukan dan semoga disetujui pusat. Proposal telah kami ajukan termasuk lokasi yang akan dijadikan bangunan," ucapnya. Pihaknya mengungkapkan, tanah yang akan dibangun sekitar 3.000 meter persegi. Rencana biayanya Rp5 miliar dan semuanya anggaran dari pusat. Pemkot hanya menyediakan lahan. "Kami berharap, 2012 ini untuk masalah tukar guling bisa selesai jika disetujui, sehingga segera dibangun," ucapnya. Jumlah lokasi "autis center" di Jatim sampai saat ini masih terbatas. Kota Malang secara resmi memiliki pusat layanan autis tersebut yang dibangun di kawasan Pendidikan Internasional, Tlogowaru, Malang. Di lokasi tersebut, dilengkapi ruang pembelajaran dan terapi, di antaranya ruang terapi wicara, autis klinik, dan pendidikan. (*)


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026