Surabaya - Para makalar buku stan disinyalir kini mulai marak dengan mendatangi sejumlah pedagang Pasar Turi yang bangkrut pascakebakaran pasar tersebut lima tahun silam dengan cara membeli buku stan dengan harga murah.
Wakil Ketua Tim Pemulihan Pascakebakaran (TPPK) Pasar Turi, Jayadi Ali Shadikin, Kamis, membenarkan adanya makelar buku stan yang mulai mendatangi sejumlah pedagang.
"Bahkan ada makelar buku stan yang sudah membeli 100 hingga 300 buku stan," katanya.
Menurut dia, para makelar buku stan ini berani membeli buku stan milik pedagang lama dengan harga bervariasi yakni ada satu buku stan dihargai Rp30 juta hingga Rp80 juta.
Biasanya pedagang yang menjual buku stan ini, lanjut dia, sudah habis modalnya atau sudah tidak berkeinginan lagi berjualan di Pasar Turi karena hingga kini pembangunannya tersendat-sendat.
"Kami tidak bisa melarang pedagang Pasar Turi menjual buku stannya ke pihak lain. Namun akibatnya banyak aksi borong buku stan ini akan merugikan pedagang lama," tegas pedagang elektronik ini.
Untuk mencegah agar makelar buku stan ini tidak menguasai stan stategis, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan PT Gala Megah Invesment, selaku investor Pasar Turi. Dimana, makelar buku stan ini saat pendaftaran harus dibedakan dengan pedagang Pasar Turi lama dengan buku stan atas namanya sendiri.
Harga stan untuk pedagang lama dengan buku stan namanya dipatok harga lantai I Rp21 juta per meter, lantai II Rp25 juta per meter, lantai III Rp20 juta per meter, lantai IV Rp17 juta per meter.
Sedangkan pemilik buku lama bukan atas namanya dikenakan harga jauh lebih dengan berkisar selisihnya Rp 20 juta per lantai. Dan juga biaya pendaftaran juga lebih mahal dibandingkan pedagang lama yang memiliki buku stan atas nama sendiri.
Hal senada juga pernah diungkapkan Wakil Ketua Ketua Himpunan Pedagang Pasar (HPP) Rasyid. Bahkan saat ini ada 500 buku stan yang dikuasai beberapa orang hasil membeli buku stan dari pedagang yang tak mampu. "Ada dugaan aksi borong ini dilakukan investor," tegasnya.
Sementara rencana penyerahan data sebanyak 800 pedagang Pasar Turi yang tak mampu versi HPP kepada Pemkot Surabaya akhirnya molor. Seharusnya diserahkan Kamis (14/6) ini, namun baru diserahkan Jumat (15/6).
Rosyid menuturkan pihaknya belum siap menyerahkan data pedagang tidak mampu ke Wali Kota Surabaya karena waktunya hanya dua hari. "Banyak pedagang yang rumahnya ada di luar kota Surabaya seperti Pasuruan, Bangil, Gresik sehingga kami kesulitan mendatanya. Maka yang didata hanya pedagang yang di Tempat Penampungan Sementara (TPS) ada sekitar 175 pedagang," jelasnya.
Disinggung apakah data pedagang akan diserahkan ke Wali Kota itu pedagang tak mampu, Rosyid mengatakan bukan seluruhnya tidak mampu sebab sebagian besar dari mereka ini memiliki rumah, kulkas dan kendaraan bermotor.
"Yang benar adalah pedagang-pedagang ini belum siap membayar uang pendaftaran Rp5 juta. Uang Rp5 juta itu bisa dibuat modal kerja. Jadi uang harus terus diputar untuk menyambung hidup," jelasnya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.