Surabaya - Polrestabes Surabaya siap menggelar dialog bersama perwakilan elemen pendukung Persebaya, Bonek Mania, untuk mengakhiri konflik antarkedua belah pihak.
"Polisi pasti mengundang perwakilan elemen suporter untuk membahas persoalan pascakerusuhan, sehingga polisi dan bonek tidak ada jarak," ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Tri Maryanto, kepada wartawan di Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan, polisi dan Bonek Mania harus menjadi satu dan tidak ada yang saling dendam. Terlebih, Polrestabes akan selalu ada jika Persebaya bermain di Surabaya bersama ribuan Bonek Mania.
Tri Maryanto mengungkapkan, Bonek adalah anak, adik, sekaligus sahabat bagi polisi. Tentang kerusuhan yang terjadi pascapertandingan antara Persebaya melawan Persija di Stadion Gelora 10 Nopember, Minggu (3/6), ia menganggap karena banyak pihak yang emosi.
"Mungkin rekan-rekan Bonek emosi seusai pertandingan, apalagi skor berkesudahan 3-3. Tapi, kalau emosi apa dibenarkan melakukan pelemparan? Kalau menyakiti orang lain bagaimana? Melempar benda keras juga mengancam jiwa orang lain," katanya.
Kapolrestabes juga belum bisa memastikan kapan izin pertandingan Persebaya bisa diberikan. Seperti diketahui, polisi melarang ada pertandingan yang melibatkan Persebaya di kompetisi manapun sejak insiden kerusuhan, hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Kerusuhan terjadi antara suporter Persebaya, Bonek Mania, dengan aparat kepolisian terjadi usai pertandingan lanjutan kompetisi Liga Primer Indonesia antara Persebaya melawan Persija. Saat itu, hasil pertandingan berakhir imbang 3-3.
Suasana memanas terjadi ketika beberapa bonek turun untuk mengambil spanduk yang terpasang di dinding tribun. Namun, kesalahpahaman terjadi antara mereka dengan aparat keamanan, hingga terjadi adu mulut antarkedua belah pihak.
Tidak terima dengan kejadian tersebut, penonton yang berada di tribun ekonomi sisi selatan terpancing dan melemparkan botol air mineral ke lapangan. Suasana semakin tak terkendali ketika polisi melontarkan gas air mata ke arah tribun.
Korban pun berjatuhan. Selain mengalami sesak nafas dan mata pedih karena gas air mata, ratusan penonton berjubel turun keluar dari stadion. Dengan suasana panik, tidak sedikit dari penonton terjatuh dan terinjak-injak. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.