Kediri - PT Perkebunan Nusantara X (Persero) meminimalisasi penggunaan bahan bakar minyak untuk operasional produksi 11 pabrik gula yang dikelolanya, dan menggantinya dengan bahan bakar alternatif limbah tebu atau bagas.
"Tahun ini diharapkan seluruh pabrik gula sudah 'zero' bahan bakar minyak (BBM)," kata Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Subiyono usai peresmian buka giling musim 2012 di Pabrik Gula Pesantren Baru, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan, pengurangan BBM untuk kebutuhan operasional pabrik gula sudah dimulai sejak 2009, sebagai salah satu upaya efisiensi yang dilakukan perseroan tersebut.
"Biaya operasional produksi yang bisa dihemat setiap tahunnya sangat besar. Sementara bagas tebu untuk bahan bakar alternatif, jumlahnya sangat melimpah. Sekarang kami sedang upayakan tempat penyimpanan bagas itu," ujar Subiyono.
Ia mengungkapkan, pada musim giling 2009, biaya operasional BBM untuk pabrik gula sudah menurun sekitar 75 persen, dari sebesar Rp133 miliar (2008) menjadi hanya Rp50 miliar.
Selanjutnya pada musim giling 2010 kembali menyusut menjadi Rp30 miliar dan biaya operasional BBM pada 2011 hanya tinggal Rp8 miliar.
"Hampir sebagian besar pabrik gula yang dikelola PTPN, selalu kesulitan menekan biaya penggunaan BBM. Padahal untuk bisa terus bersaing, kuncinya harus mampu melakukan efisiensi dan kami mampu melakukan itu," tambah Subiyono.
Efisiensi lainnya yang dilakukan PTPN X adalah memangkas jam berhenti operasional pabrik selama musim giling karena kerusakan atau kendala teknis, dari 6-7 persen menjadi 2-3 persen per tahun.
Subiyono juga menambahkan, dari 11 pabrik gula yang dikelola perseroannya, dua di antaranya yakni PG Pesantren Baru dan PG Ngadiredjo (keduanya di Kediri), memiliki kelebihan energi listrik yang dihasilkan sendiri.
"Kami sedang menghitung berapa besar daya listrik yang dihasilkan kedua pabrik itu, karena nantinya kelebihan itu bisa dijual untuk menambah pendapatan," paparnya. (*)
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.