Kediri - Tingkat inflasi di Kediri pada Maret 2012 mencapai 0,04 persen atau turun dibandingan dengan bulan sebelumnya, yakni Februari yang mencapai 0,22 persen. Kepala Seksi Statistik dan Distribusi BPS Kediri Arief Dwi Purwanto di Kediri, Rabu mengemukakan, laju inflasi itu dipengaruhi harga sejumlah bahan pokok. "Ada sejumlah harga bahan pokok dan sayur yang naik, seperti cabai, gula pasir, maupun bawang putih. Tapi, tidak terlalu memberikan dampak signifikan," katanya dikonfirmasi. Ia mengatakan, adanya rencana penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sebelumnya sempat membuat masyarakat khawatir, karena harga bahan pokok juga ikut naik, ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Harga beras, sebagai komoditas utama penyumbang laju inflasi ternyata harganya tidak terlalu naik. Hal ini membuat laju inflasi juga tidak terlalu tinggi untuk wilayah Kota Kediri. Ia menyebut, rata-rata harga beras di Kediri pada Februari lalu mencapai Rp7.630 perkilogram, namun turun pada Maret hingga harganya Rp7.425 perkilogram atau turun 2,68 persen. Adanya isu penaikan harga BBM tidak terlalu memberikan dampak yang signifikan. "Harga beras masih standar, dan daya beli masyarakat masih terjangkau. Ini membuat laju inflasi tidak terlalu tinggi," ucapnya. Ia juga mengatakan, dari tujuh kelompok pengeluaran, empat di antaranya mengalami inflasi yaitu makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebanyak 0,91 persen. Selain itu, ada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebanyak 0,08 persen. Kelompok ketiga kesehatan 0,05 persen dan terakhir kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sampai 0,12 persen. "Dua lainnya mengalami deflasi yaitu bahan makanan -0,59 persen dan kelompok sandang -0,42 persen. Satu kelompok relatif stabil yaitu pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,00 persen," papar Arif, mengungkapkan. Arief juga mengatakan, dari tujuh kota sebagai penimbang laju inflasi di Jatim, enam kota mengalami inflasi, sementara satu kota justru deflasi. Laju inflasi tertinggi terjadi di Jember 0,29 persen, menyusul Madiun 0,22 persen, Sumenep 0,12 persen, Surabaya 0,09 persen, Kediri 0,04 persen, dan terendah Kota Malang 0,01 persen. Sedangkan satu kota mengalami deflasi yaitu Probolinggo -0,35 persen. Pihaknya memprediksi untuk April 2012 nanti justru terjadi deflasi. Hal itu dimungkinkan karena harga beras sudah mulai turun, mengingat panen raya sudah berlangsung, hingg stok beras juga melimpah. "Kalau panen, berarti harga beras turun. Kami berharap, ini nantinya menjadi deflasi, dan membuat masyarakat sejahtera karena mereka bisa membeli beras dengan harga murah. Tapi, tentu saja, petani yang kesulitan, karena harga jual murah nantinya," kata Arief.


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026