Nganjuk - Joko Suprianto mengaku pernah diberi racun oleh pembantunya Mujianto yang kini menjadi tersangka pembunuhan berantai.
"Kami menduga JS (Joko Suprianto) saat itu menjadi korban Mujianto yang pertama, tapi dia tidak menyadari hal itu dan baru sekarang ini dia teringat," kata penasihat hukum Joko, Lugito SH, di Nganjuk, Selasa.
Lugito mengatakan, kliennya sakit pada pertengahan tahun 2011 lalu dan sempat masuk rumah sakit hingga empat kali dengan keluhan pusing, mual, dan muntah.
Pihaknya saat ini sedang berupaya untuk meminta hasil rekam medik dari dua rumah sakit tempat kliennya pernah dirawat, yaitu RS Bhayangkara Nganjuk dan RSUD Nganjuk. Ia menduga, kliennya juga pernah menjadi korban Mujianto, dengan ciri-ciri sakit yang pernah diderita kliennya.
"Hasil diagnosa dokter menyebutkan saat itu, kalau dia keracunan makanan namun tidak parah, sehingga bisa disembuhkan dengan cepat," ucapnya.
Lugito juga mengakui bahwa Joko sering memergoki Mujianto menggunakan telepon selulernya, terutama saat telepon miliknya baterainya sedang diisi ulang. Telepon itu diletakkan di atas meja, dan ia tidak dapat mengawasinya sewaktu-waktu.
"Hal itu terjadi berulang kali dan klien saya tidak mengambil sikap tegas, karena menganggap Mujianto sudah sebagai anggota keluarganya sendiri," ucapnya.
Ia juga mengatakan, saat ini kondisi psikologis dari kliennya sangat terganggu. Terlebih lagi, setelah namanya disangkutpautkan dengan Mujianto, yang dituding jika kliennya adalah pasangan gay dari Mujianto.
"Kondisi psikologis klien saya cukup tertekan. Untuk itu kami minta bisa memahami dan memaklumi kondisi kejiwaan dari klien saya, karena bagaimanapun dia tidak bersalah dan tidak terkait dengan kasus Mujianto," katanya.
Sementara itu, saat ini Polres Nganjuk masih melakukan penyelidikan kasus Mujianto tersebut. Jumlah korban juga terus bertambah dari 16 orang menjadi 23 korban. Namun, untuk jumlah korban meninggal masih sama, yakni lima orang.
"Kami mengusut dan melengkapi berkas dari para korban. Proses penydikan terus kami lakukan," kata Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Polres Nganjuk, AKP Bambang Sutikno.
Kasus Mujianto itu sudah sekitar dua pekan ini terungkap dan disidik polisi, hingga menemukan ada 23 korban. Mujianto yang berasal dari Desa Jatikapur, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, mengaku kesal dan cemburu pada pria yang diakuinya sebagia pasangannya, Joko Suprianto, karena perhatiannya berkurang.
Karena cemburu, Mujianto mengudang para korban lewat telepon. Mujianto mengaku mendapatkan nomor telepon para korban karena diberi oleh Joko. Ia menaruh racun pada makanan maupun minuman para korbannya dengan racun tikus.
Latar belakang profesi para korban ini bervariatif, mulai dari pegawai negeri sipil, pedagang, hingga petani. Mereka juga tinggal di beberapa daerah di Jatim, seperti Kediri, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Jateng. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.