Surabaya - Pelaku industri otomotif Honda Surabaya Center meyakini rencana pemerintah membatasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) subsidi dengan opsi menaikkan harga bukan ancaman bagi eksistensi bisnisnya. "Operational Manager" Honda Surabaya Center, Wendy Mihardja, di Surabaya, Senin mengatakan, pengaruh opsi kenaikan harga BBM, bagi masyarakat otomotif dampaknya berlangsung beberapa waktu. Lalu, mereka akan menyesuaikan dan mulai melakukan pembelian lagi produk otomotif. "Hal tersebut karena masalah utama bagi penyalur produk otomotif di Indonesia termasuk kami adalah belum beroperasinya pabrik otomotif di Thailand akibat banjir beberapa waktu yang lalu," katanya. Menurut dia, berhentinya keberlangsungan produksi mobil sangat menghambat ketersediaannya bagi konsumen. Selain itu, mempengaruhi pasokan suku cadang beberapa jenis produk otomotifnya. "Apalagi, sampai sekarang kami sangat menggantungkan proses produksi mobil dari pabrik di Thailand," ujarnya. Dampak kondisi tersebut, ungkap dia, sampai saat ini ketersediaan beragam jenis mobilnya semakin turun di antaranya Honda City dan Honda Civic. "Bahkan, ada beberapa komponen Honda Jazz dan CRV yang sampai sekarang berkurang stoknya," katanya. Imbas lainnya, tambah dia, hingga kini besaran mobil yang dipesan masyarakat di distributor tersebut secara keseluruhan mencapai sekitar 600 unit. "Kami khawatir situasi ini berlangsung sampai Juni mendatang menyusul pabrik di Thailand mulai beroperasional antara April-Mei 2012," katanya. Di sisi lain, kata dia, selama ini minimnya ketersediaan mobilnya telah diantisipasi dengan mengimpor komoditas tersebut dari pabrik di Brazil. "Namun jaraknya terlalu jauh," katanya. "Untuk penjualan di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, targetnya 7.130 unit selama tahun ini seiring mayoritas mobil yang kami tawarkan memiliki teknologi hemat BBM," katanya.(*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026