PBB (ANTARA / Xinhua-OANA) - Anggota ekspedisi Samudra Tara mengunjungi PBB pada hari Kamis (9/2) untuk menjelaskan mengenai pekerjaan mereka dalam mempelajari plankton di habitat laut di seluruh dunia guna membantu menerangi ilmu perubahan iklim dan menyebarkan berita tentang tantangan global.
"Jika kita membuat kehidupan organisme di lautan menjadi tidak seimbang, hal tersebut dapat menyebabkan hasil yang dramatis, termasuk perubahan yang cepat di atmosfer tempat kita hidup," kata Eric Karsenti, direktur ilmiah dari ekspedisi pada wartawan saat konferensi pers tentang Tara .
Ekspedisi Samudra Tara adalah misi ilmiah tiga tahundi seluruh dunia untuk menyelidiki dampak perubahan iklim terhadap laut melalui studi laut plankton. Kapal penelitian tersebut memulai perjalanannya pada September 2009 di Perancis dan saat ini di sedang berlabuh sementara di New York selama seminggu.
Tim Ekspedisi Samudra Tara bersama dengan perancang busana, Agnes B; sponsor utama ekspedisi, bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada Kamis dan menjelaskan mengenai proyek mereka..
Karsenti menjelaskan bahwa mempelajari plankton laut adalah cara yang baikuntuk mempelajari perubahan iklim, karena mereka cukup cepat terpengaruh sehingga menjadikan mereka "indikator yang sangat baik" bagikesehatan laut dan begitu juga bagi planet.
Karsenti mengatakan saat bumi menghangat "hal itu akan mengubah perilaku organisme tersebut, maka itu akan menyebabkan pengasaman laut dan hilangnya oksigen di banyak daerah di lautan."
"Jadi memang ada kebutuhan akan kebijakan yang mendesak untuk mengembangkan sumber energi terbarukan, seperti yang kita sudah tahu, tapi ini adalah alasan lain untuk menekankannya," katanya. "Ada juga kebutuhan vital untuk pemantauan internasional dari laut dan kebijakan pemanenan dan memancing yang perlu diawasi."
Misi Tara Samudra, bagaimanapun, tidak hanya mempelajari laut, tetapi juga mempelajari tentang bagaimana mengajar orang lain, menurut Karsenti.
"Setiap kali perahu berhenti di pelabuhan, kami berbicara pada anak-anak yang mendatangi kapal. Kami juga mendatangi mereka ke sekolah," katanya.
Ekspedisi ini telah menjangkau anak-anak dari seluruh penjuru dunia dengan pelajaran tentang biologi kelautan dan perubahan iklim.
Philippe Kridelka dari Pendidikan PBB, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), yang juga berbicara pada konferensi pers, mengatakan bahwa lembaganya bangga akanEkspedisi Tara.
"Kemitraan antara UNESCO dan program oseanografi UNESCO besertaTara sangat penting bagi kita karena membantu kita untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya lautan dan pentingnya keanekaragaman hayati dalam agenda global," katanya.
Kridelka menekankan kemampuan proyek seperti Tara untuk memfasilitasi dialog dan mengirimkan informasi penting antarilmuwan dan masyarakat serta antarilmuwan dan pembuat keputusan politik.
Dia juga menyebutkan Konferensi PBB mengenai Pembangunan Berkelanjutan (Rio +20), yang akan berlangsung di Rio de Janeiro dari 20 hingga 22 Juni. Selain itu, PBB akan mencoba untuk membentuk agenda pasca-2015 untuk berkelanjutan pembangunan.
"Kita tahu, selama ada tantangan, selama itu jugaUNESCO dibutuhkan, kami ingin melihat isu tentang lautan dapat diangkat lebih baik lagi dalam agenda pembangunan," kata Kridelka. "Kita tahu bahwa lautan dan sumber daya pesisir mewakili lebih dari 5 persen dari GNP dunia (gross nasional produk). Hal tersebut adalah alat yang sangat penting untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan, dan menciptakan lapangan kerja berkelanjutan di negara berkembang di masa depan."(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.