Surabaya - Sejumlah peritel di Jawa Timur mulai mewaspadai pemberlakuan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) di Indonesia karena penerapannya mempengaruhi besaran margin bisnis mereka pada masa mendatang. "Untuk menyiasatinya, kini kami sedang mengkalkulasi berapa margin harga jual ideal supaya tidak merugikan peritel Jatim," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel  Indonesia (Aprindo) Jatim, Abraham Ibnu, dihubungi di Surabaya, Kamis malam. Meski belum bisa memastikan persentase revisi margin peritel di Jatim, prediksi dia, angkanya tidak terlampau tinggi. Apalagi, sekarang para pelaku ritel siap melakukan segala upaya untuk menjaga posisi margin harga jualnya. "Kami juga gencar melobi para pemasok produk baik pabrikan maupun Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)," ujarnya. Sementara itu, mengenai rata-rata keuntungan yang diambil peritel Jatim, tambah dia, sampai saat ini mayoritas berkisar antara lima hingga tujuh persen dari harga produk yang dipasarkan. "Di sisi lain, kini ada di Jatim terdapat 120 perusahaan ritel," katanya. Dari jumlah perusahaan itu, kata dia, total gerai ritel yang menyebar di 38 kabupaten/kota di Jatim mencapai sekitar 1.850 gerai. "Khusus di Surabaya, pertumbuhan gerai ritelnya juga mencatatkan angka positif," katanya. Ia mengemukakan, pertumbuhan gerai ritel di Kota Pahlawan meningkat hingga 15 persen selama tahun 2011 dibandingkan pencapaian tahun 2010. "Padahal, selama tahun 2010 pertumbuhan gerai ritel di Surabaya hanya meningkat 12 persen dibandingkan tahun 2009," katanya. Di sisi lain, lanjut dia, dari banyaknya ritel di Jatim maka dampak kenaikan TDL paling besar dialami pengusaha "department store". Apalagi, ke depan juga diterapkan penghapusan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). "Walau demikian, kami harap secara umum minat masyarakat untuk berbelanja di berbagai gerai ritel di Jatim tidak turun sehingga tetap memberikan kontribusi bagi perekonomian provinsi ini," katanya.(*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026