Surabaya - Hasil diskusi dan rangkaian kegiatan Rembug Nasional Saudagar Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Surabaya pada 26-29 Januari 2012 akan dijadikan rekomendasi dan dikirim ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. "Nantinya akan menjadi masukan bagi pemerintah dan diharapkan bisa mengembangkan semangat perekonomian bangsa ini. Hasilnya pasti kami serahkan ke Presiden SBY," ujar Ketua Umum Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Pusat, Abdul Kholik kepada wartawan di Surabaya, Minggu. Poin penting yang dihasilkan dari diskusi sekitar 150 saudagar se-Indonesia tersebut salah satunya adalah sinergitas antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah hingga besar. Menurut dia, di sektor perekonomian juga dibutuhkan semangat toleransi dan plularisme. Ia mengatakan wajib kiranya memberdayakan pengusaha kecil dan membuat nyaman pengusaha besar untuk mempertahankan ekonomi bangsa. "Hal itu akan terwujud dan bertahan kalau pengusaha kecil dan besar bisa bekerja sama, bukan menganggap pengusaha kecil merepotkan dan pengusaha besar terlalu tamak," tuturnya. Saat ini, lanjut dia, banyaknya unjuk rasa dan tuntutan kaum buruh merupakan salah satu bentuk tidak adanya kerja sama antara pengusaha besar dan kecil. "Kalau pengusaha kecil berkompetisi dengan yang besar, pasti kalah. Contohnya, minimarket banyak di perkampungan dan mematikan pasar atau toko tradisional. Padahal seharusnya mereka bisa bersinergi," papar Abdul Kholik. Ia mengimbau agar ke depannya semua penggerak dan pelaku usaha di Indonesia bisa bersinergi dengan mengusung semangat toleransi maupun plularisme. "Dari segi religiusnya, NU sudah melakukan itu, yakni melindungi kaum minoritas dan menghargai perbedaan suku maupun ras. Ini yang harus dilakukan juga di bidang perekonomian," katanya. Pimpinan perusahaan PT Azet Surya Lestari yang bergerak di bidang manufacturing alat-alat kelistrikan tenaga surya tersebut juga mengungkapkan pengusaha nahdliyin saat ini mayoritas masih berada di tingkat menengah ke bawah. Karena itulah pihaknya akan membuat sektor perekonomian kaum nahdliyin terangkat. "Kami harus aku itu. Tapi tidak semua, sebab segelintir diantaranya banyak yang menjadi pengusaha besar. Yang pasti, semangat plularisme dan toleransi harus dikedepankan," ucap dia. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026