Kediri - Sejumlah warga RT VI/RW I, Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, protes ketika petugas pengasapan (fogging) dari dinas kesehatan setempat tidak mau masuk ke rumah mereka, dengan alasan beda RT (rukun tetangga, red).
"Rumah kami berhadapan, tapi petugas tidak mau masuk. Padahal, cuma tiga rumah," kata Tri, salah seorang warga dari RT VI/ RW I, Kelurahan Bandar Kidul, Jumat.
Petugas dari Dinas Kesehatan Kota Kediri melakukan "fogging" atau pengasapan di kelurahan tersebut. Kegiatan itu dilakukan, setelah ada laporan bayi berusia 10 bulan bernama Moh Dafa, anak pasangan Ibrahim (37) dan Rosi Eliza (27), positif menderita penyakit demam berdarah.
Mereka melakukan fogging di lokasi tersebut, dengan radius sekitar 200 meter dari lokasi rumah Moh Dafa. Fogging selain dilakukan di dalam rumah, juga hingga selokan.
Namun, sejumlah warga di RT VI memprotes setelah rumah mereka juga tidak didatangi petugas. Padahal, rumah mereka terletak di satu gang, walaupun beda RT. Petugas beralasan kegiatan ini atas permintaan dari RT setempat, hingga yang dilakukan fogging pun juga daerah itu.
Petugas Dinas Kesehatan Kota Kediri, Muji Priono menampik jika menolak melakukan fogging di daerah lain, padahal rumah warga tersebut berdekatan. Ia mengantisipasi adanya warga yang protes, karena sebelumnya tidak ada pemberitahuan jika akan dilakukan fogging.
"Jika dari RT lain ingin dilakukan fogging, harus didampingi oleh pengurus RT nya, atau perangkat lain, jadi warga juga bisa siap-siap. Kami pernah mendapati ada warga yang protes, karena fogging yang dilakukan. Kami tidak ingin hal itu terjadi," katanya.
Ia mengatakan, fogging kali ini memang atas permintaan dari pengurus RT setempat, karena di daerah itu ditemukan ada pasien yang positif diketahui sakit demam berdarah.
Dalam kegiatan itu, pihaknya mempersiapkan 50 liter campuran malathion serta solar yang ditaruh di empat jeriken. Ada dua petugas yang melakuan fogging.
Kegiatan itu dilakukan di RT V, rumah Moh Dafa, dan sebagian di RT IV. Ada sekitar 125 rumah yang difogging, dengan harapan nyamuk dewasa mati, hingga bisa memutus mata rantai dari nyamuk tersebut.
Muji menyebut, selama awal Januari 2012 ini, sudah dua pasien yang menderita demam berdarah, yaitu pertama seorang anak umur sembilan tahun warga Kelurahan Setonobetek, Kecamatan Kota Kediri, dan kedua adalah Moh Dafa yang masih berusia 10 bulan.
"Kami langsung tindak lanjuti dengan melakukan fogging. Memang hanya nyamuk dewasa yang mati, untuk itu, kami minta warga juga antisipasi, dengan menjaga kebersihan lingkungan," katanya menegaskan.
Serangan demam berdarah pada 2012 ini memang belum terlihat. Bahkan, pada 2011 lalu jumlah pasien juga lebih sedikit daripada 2010, yaitu dimana pada 2010 kasusnya hanya 67 kasus lebih sedikit jika dibandingkan pada 2010 yang mencapai 637 pasien.
Walaupun jumlah lebih sedikit, pemkot lewat Dinas Kesehatan setempat berharap warga tetap menerapkan pola kebersihan mencegah berkembangnya nyamuk demam berdarah di antaranya melakukan program 3M yaitu menguras, menutup dan mengubur barang ataupun benda yang bisa menampung air.
Selain itu, ia juga tetap menurunkan petugas pemantau jentik, mengantisipasi adanya jentik nyamuk di lokasi-lokasi penampungan air. Petugas itu diterjunkan baik di rumah, tempat umum, maupun sekolahan. Mereka juga diharapkan, bisa memberikan informasi kepada masyarakat umum pencegahan demam berdarah. (*)
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.