Bhagwal (ANTARA/AFP) - Di halaman berlumpur di samping kuburan tempat bendera Pakistan terpancang di makam suaminya, Mussarrat Bibi duduk terisak, dengan pelayat masih berdatangan untuk memberikan penghormatan.
Sersan Mumtaz Hussain adalah salah satu dari 24 tentara Pakistan yang tewas oleh serangan udara NATO ketika ia ditugaskan memerangi Taliban di perbatasan Afghanistan, meninggalkan ibu, janda dan dua anaknya.
Mereka menyatakan penderitaan menjadi lebih pahit, karena ia tewas dalam perang Amerika Serikat, yang mereka tidak percaya harus dilakukan Pakistan.
"Ini bukan pertama kali Amerika Serikat menyerang tentara kita, tapi pemerintah kita tidak menanggapi," kata Mussarrat menjerit, "Tidak cukup membunuh tentara tak berdosa, pencari nafkah untuk anak-anak mereka."
Jandanya, yang baru berusia 24 tahun, menyatakan pengutamaannya adalah anak-anaknya.
"Pada hari ia meninggal, anak-anak sangat kehilangan dia. Mereka mengatakan kepada saya tidak ingin ke sekolah. Mereka hanya ingin melihat dia dan tidak akan ke sekolah sampai keinginan mereka terwujud. Anak laki-laki saya masih tidak percaya dia sudah meninggal," katanya.
Pembunuhan di dua pos perbatasan pada dinihari 26 November itu membuat hubungan Pakistan-Amerika Serikat ke tingkat terendah dan ditanggapi marah oleh Islamabad, walaupun hanya sedikit unjukrasa.
Pakistan akan memboikot muktamar antarbangsa tentang Afghanistan pada Senin di Jerman, menutup perbatasan Afghanistan untuk iringan NATO dan memerintahkan Amerika Serikat meninggalkan salah satu pangkalan udara, yang dilaporkan digunakan sebagai pusat serangan rahasia pesawat tak berawak CIA, pada 11 Desember.
Karena marah pemerintah bersekutu dengan Amerika Serikat, kerabat duka menyatakan satu-satunya jawaban adalah mengakhiri hubungan itu dan melarang perang pesawat rahasia tak berawak CIA melawan komandan Taliban di wilayah perbatasan itu.
"India adalah musuh kami dan jika kami harus mengorbankan anak-anak terhadap India, kami akan bangga. Tapi, apa gunanya mengorbankan anak-anak kami untuk perang tak berarti ini, yang bukan perang kita," kata paman Husain, Muhammad Nazeer, mempertanyakan.
"Jika pemerintah kami memutuskan keluar dari persekutuan Amerika Serikat, semua akan baik-baik saja. Taliban tidak akan menyerang kami dan kami akan tumbuh. Serangan pesawat tak berawak itu memicu terorisme dan memperkuat Taliban," kata Nazeer.
Islamabad menyatakan akan meninjau hubungan dingin dengan Amerika Serikat dan persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO, meskipun belum jelas sampai sejauh mana pemerintah atau tentara memaksa melalui perubahan hakiki.
Pakistan tergantung pada miliaran dolar bantuan Amerika Serikat.
"Perang ini harus berakhir sekarang," kata Said Beguman (70 tahun), ibu Husain, dengan selendang menutupi rambut abu-abunya duduk di rumah sederhananya, yang dibanjiri pelayat di desa Bhagwal, 120 kilometer selatan Islamabad.
"Ini membawa kehancuran ke negara kami," tambahnya, "Saya ingin perdamaian bagi anak-anak lain. Perang ini tidak untuk siapa pun dan pemerintah kami harus keluar dari itu."
Putranya terbaring di makam belakang rumah, gundukan baru tanah diselimuti kelopak mawar dan karangan bunga dari Presiden Asif Ali Zardari, panglima tentara Jenderal Ashfaq Kayani dan pemimpin lawan Nawaz Sharif.
Pakistan percaya telah membayar terlalu tinggi untuk ikut "perang melawan teror" pimpinan Amerika Serikat pada hari gelap setelah serangan 11 September 2001 atas New York.
Taliban dalam negeri membom kota dan melancarkan pemberontakan sengit di baratlaut. Pemerintah menyatakan 35.000 orang tewas dalam 10 tahun, termasuk lebih dari 3.000 tentara tewas dalam pertempuran dengan pejuang garis keras itu.
Di tigapuluh kilometer timur Bhagwal, terletak desa Natowala, yang seperti daerah lain kabupaten Chakwal, adalah tempat utama untuk pembibitan tentara, tempat puluhan keluarga bergantung pada gaji dan pensiun tentara.
Tasleem Akhter (35 tahun) menyatakan lebih marah pada pemerintah daripada kematian putranya, Rizwan Abbas (20 tahun), yang dibibit pada tahun lalu.
"Adalah keinginan dia dan saya berkorban untuk bangsa. Saya dapat mengorbankan tiga putra lain saya untuk tanah air saya, tapi pemerintah kita harus mengubah kebijakan," katanya.
Pada perjalanan pulang sebelumnya, teman masa kecil Jameel Akhter menyatakan Abbas memiliki firasat bahwa itu mungkin yang terakhir.
"Saat kami berjalan, dia bilang ini mungkin perjalanan terakhirnya ke desa dan minta saya mengganti bendera negara di makamnya secara teratur setelah kematiannya," kata Akhter kepada kantor berita Prancis AFP.
"Dia selalu bercerita tentang perang melawan Taliban. Saya tidak pernah memperkirakan Amerika Serikat membunuhnya," katanya. (*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.