Kabul (ANTARA/AFP) - Presiden Afghanistan Hamid Karzai hari Minggu membentuk sebuah tim untuk menyelidiki pembunuhan utusan perdamaian Burhanuddin Rabbani, sementara para pejabat menyatakan hampir mengetahui kebenaran tentang kematiannya. Rabbani, ketua Dewan Perdamaian Tinggi yang dibentuk Karzai, tewas dalam serangan oleh seorang pembom bersorban yang disebut-sebut sebagai utusan perdamaian Taliban. Kematiannya itu berisiko menimbulkan pergolakan baru, dan menurut para ahli, orang-orang Tajik pendukung Rabbani, yang ikut melakukan perlawanan terhadap Taliban ketika mereka berkuasa, mungkin menolak segala upaya untuk membicarakan perdamaian. Para pejabat juga mengungkapkan bahwa pekan lalu mereka menangkap seorang pria yang berbicara dengan pembunuh di telefon sehari sebelum pembunuhan Rabbani. Polisi dan para pejabat tinggi menuduh Taliban bertanggung jawab atas serangan itu, namun tidak seperti biasanya, para pemimpin Taliban menolak berkomentar mengenai pembunuhan itu. Penyelidikan itu akan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Afghanistan Abdul Rahim Wardak, orang dekat Karzai, kata istana kepresidenan dalam sebuah pernyataan. "Sebagai hasil dari tindakan yang diambil untuk mengidentifikasi unsur-unsur di balik pembunuhan Ustad Rabbani, seorang pria telah ditangkap dan keterangan yang diperoleh darinya membawa kami semakin dekat dengan kebenaran," katanya. Pernyataan istana itu juga mengumumkan peningkatan pengamanan terhadap para pejabat di Afghanistan setelah pembunuhan tersebut. Rabbani dimakamkan di Kabul pada Jumat di tengah teriakan-teriakan marah para pendukungnya yang menyerukan "Kematian bagi Amerika, kematian bagi Pakistan, kematian bagi Karzai", dan mereka berjanji turun ke jalan untuk memprotes pembunuhan itu. Konflik meningkat di Afghanistan dengan jumlah kematian sipil dan militer mencapai tingkat tertinggi tahun lalu ketika kekerasan yang dikobarkan Taliban meluas dari wilayah tradisional di selatan dan timur ke daerah-daerah barat dan utara yang dulu stabil. Sebanyak 711 prajurit asing tewas dalam perang di Afghanistan sepanjang tahun lalu, yang menjadikan 2010 sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan asing, menurut hitungan AFP yang berdasarkan atas situs independen icasualties.org. Jumlah kematian sipil juga meningkat, dan Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengumumkan bahwa 2.043 warga sipil tewas pada 2010 akibat serangan Taliban dan operasi militer yang ditujukan pada gerilyawan. Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001. Sekitar 130.000 personel Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO yang berasal dari puluhan negara berada di Afghanistan untuk membantu pemerintah kabul memerangi pemberontakan Taliban dan sekutunya. Sekitar 521 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot. Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut. Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer.


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026