Sumenep - Aparat Kepolisian Resor Sumenep meminta siswa setempat menghargai profesi wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik.
"Kalau ada sesuatu yang dinilai kurang berkenan atas perilaku wartawan, jangan gunakan kekerasan. Kami berharap para siswa juga ikut menjaga situasi yang kondusif di Sumenep," kata Kepala Kepolisian Resor Sumenep, AKBP Susanto, di mushalla SMAN 1 Sumenep, Selasa.
Pada Selasa siang, pimpinan Polres dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Sumenep bersilaturrahmi dengan sejumlah guru dan pengurus OSIS SMAN 1.
"Kami sengaja menggelar kegiatan ini sebagai upaya untuk mengenalkan siswa pada profesi wartawan. Tak kenal, maka tak sayang. Kami juga berharap para wartawan bekerja secara profesional dalam menjalankan tugas jurnalistiknya," ujarnya.
Susanto berharap kasus bentrok antara siswa SMA dengan sejumlah wartawan di Jakarta tidak terjadi di Sumenep.
"Untuk kasus yang terjadi di Jakarta, biarkan proses hukum yang menyelesaikannya. Kami minta para wartawan dan siswa di Sumenep tetap saling menghormati serta membantu kami mewujudkan situasi yang kondusif," ucapnya, menambahkan.
Sementara Ketua PWI Sumenep, Agus Rasyid berharap kasus bentrok antara siswa dengan wartawan di Jakarta adalah kasus pertama sekaligus terakhir kali.
"Persoalan tidak akan pernah selesai, jika menggunakan jalur kekerasan. Secara kelembagaan, kami prihatin dengan kasus bentrok antara siswa dengan wartawan di Jakarta dan berharap persoalan tersebut ditangani polisi secepatnya supaya tidak berkepanjangan," katanya, mengungkapkan.
Kedatangan polisi dan para wartawan diterima Kepala SMAN 1 Sumenep, A Sadik dan siswanya di mushalla.
Usai acara, Susanto dan Rasyid bersalaman dengan para pengurus OSIS SMAN 1 Sumenep.
"Jangan macam-macam. Saya tidak ingin mendengar dan mendapat laporan ada siswa SMAN 1 Sumenep yang diproses hukum oleh anggota gara-gara melakukan tindak pidana," kata Susanto kepada sejumlah siswa yang menyalaminya.
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.